Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 10, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Dia tak bicara bukan berarti bisu Dia kaku bukan berarti hatinya beku. Dia tak pernah berbicara bukan berarti bisu, dia kaku bukan berarti hatinya beku. Hatinya seakan terkunci, bagai tak ada celah bagi siapa yang mencoba tuk mengetuk hatinya. Tapi aku yakin dia akan membuka pintu hatinya suatu saat nanti. Meski aku harus menerima kenyataan bahwasannya, bukan aku kunci yang bisa membuka hatinya. Ini tentangnya. Tentang dia yang sudah sejak lama pergi, namun kenangannya masih menjadi draft indah yang kusimpan rapih hingga kini. Tentang sebuah proses melupakan, tentang sebuah proses untuk mengikhlaskan, tentang sebuah pelajaran yang mengajarkan arti pedihnnya sebuah pengharapan. Tentang masa indah bersamanya. Tentang bagaimana rasa sulit melepaskannya. Tentang sebuah keikhlasan hati untuk menerima takdir dari-Nya. Tak sepantasnya aku menyalahkan takdir. Karna dengan kehadirannya. Membuatku lebih memaknai arti sebuah perasaan yang dinamakan CINTA. Yang berujung pada sebuah akhir yang dinamai 'Mengikhlaskan'. Karna disitulah titik jenuh setiap insan yang merasakan kelemahan cinta.
All Rights Reserved
#103
proses
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • diagnosis hati
  • KETIKA HATI HARUS MERELAKAN
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • That One Glimpse Love
  • Aku Dan Sebuah Do'a (Sudah Terbit)
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • AZALEA
  • Rasa Dalam Sujudku
  • Tahajud Cinta Kayra (REVISI)
  • Together with The Sundown

Raisa Ayu Nararya sudah dikenal di preklinik sebagai mahasiswi yang mudah bergaul. Dia tak pernah ragu untuk menyapa siapa pun, bahkan dengan orang yang baru dikenalnya sekalipun. Namun, ada satu orang yang selalu membuatnya penasaran-Harsa Adikara, teman sekelas yang terlihat serius dan sangat tertutup. Harsa, dengan sikap dinginnya, seolah tidak tertarik untuk bergaul kepada siapa pun, bahkan dengan Raisa yang sering kali coba mendekatinya. Raisa sebenarnya sudah lama menyukai Harsa, meskipun dia tahu Harsa bukan tipe orang yang mudah didekati. Semua teman-temannya di preklinik tahu bahwa Raisa punya perasaan pada Harsa, namun Harsa tetap dengan sikap dinginnya. Raisa bahkan sering melontarkan candaan tentang perasaannya kepada teman-temannya, meski ia sadar Harsa tak akan pernah menanggapi. Namun, segalanya berubah setelah mendapat kabar mengejutkan-Raisa dan Harsa dipasangkan dalam satu tim koas. Mereka berdua harus bekerja bersama dalam satu shift jaga di rumah sakit, dan tentu saja, ini membuka kesempatan baru bagi Raisa untuk lebih dekat dengan Harsa. Tugas-tugas medis yang intens membuat mereka berdua sering berinteraksi. Raisa yang luwes dan apa adanya, mencoba untuk lebih dekat dengan Harsa, meskipun dia selalu mendapat respons yang terkesan dingin. Harsa yang selalu terlihat tidak tertarik dengan hubungan sosial pun mulai merasa kebingungan dengan perasaan Raisa yang terus-menerus menggodanya. Meskipun begitu, Harsa tetap menjaga jarak, seolah ada sesuatu yang menghalanginya untuk membuka hati. Harsa mulai merenung. Mengapa dia begitu menahan diri? Mengapa dia begitu sulit untuk percaya bahwa hubungan bisa berjalan baik-baik saja? Apakah ada yang salah dengan hatinya? Harsa mulai berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, mencoba mendiagnosis perasaan dan ketakutannya akan hubungan dengan orang lain-terutama dengan Raisa, yang terlihat begitu percaya diri. Akankah Harsa akhirnya mampu membuka hati dan mempercayai cinta? #kedokteran

More details
WpActionLinkContent Guidelines