Kisah Sebentar

Kisah Sebentar

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 12, 2018
Saat malam mulai larut. Aku terpaku di dalam kesunyian karena hati terpasung dalam kesepian. Kesesihan dengan kesendirian, membuat air mataku mengalir dengan derasnya. Air mata yang menjadi bukti betapa lelahnya tubuh ini menahan luka.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Tatapan Terakhir yang Tak Kujadikan Pertanda"
  • Music Box & Dancing Doll
  • U(you)
  • Step brother
  • My Twin is My Lover
  • Tersenyumlah Cantik
  • Lembayung
  • Rindu Bintang (Selesai)
  • Thanks for all

Malam itu, langit begitu gelap, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu jalan yang menyinari setiap sudut kota. Aku berdiri di depan gerbang rumah, menatap ke arah jalan raya. Hatiku berdebar, ada semacam keheningan yang menyesakkan di dada. Kegiatan perpisahan di sekolah baru saja selesai, dan meskipun acara itu penuh tawa dan ceria, ada perasaan aneh yang mengendap di dalam diri. Mungkin ini karena aku tahu, hari itu akan menjadi hari terakhir kali kita bertemu dalam keadaan seperti ini.

More details
WpActionLinkContent Guidelines