Invisible Classmate

Invisible Classmate

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 16, 2018
"Lets be friend" sebuah telapak tangan terbuka dihadapanku. Sejak dua minggu disini, baru sekali ini aku mendapati seseorang mau berbicara denganku. Jadi... aku mulai menggali memoriku tentang siapa aku, dan untuk apa aku disini. Siapa ? Aku Nam, aku menjuluki diriku sendiri sebagai "invisible" ini tak berarti tak ada yang bisa melihatku, tapi lebih tepatnya di sekolah tak ada yang mau melihatku. Aku hanya gadis biasa dari negara lain untuk menjadi pelajar bayaran di negeri ginseng. Disini aku hanya sekedar menjalankan misi dari istana merdeka. Misiku adalah mengamati persifatan pelajar Korea dalam hal kelebihan dan kelemahan mereka secara umum. Aku sendiri tak paham tujuannya Aku hanya menjalankan misi Bersikap sebagai pelajar Korea sewajar dan semestinya. Menyamar adalah keseharianku Mengamati adalah tugasku dan menghindari masalah adalah kebutuhanku. Dan sepertinya aku mulai mencium bau masalah pertamaku semenjak menetap disini. Dia, yang kini tengah berdiri tegak dihadapanku. Oh tidak tuhan, kumohon jangan dia. Kim-Seon-Ho ?
All Rights Reserved
#7
lovelive
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WIANBU
  • SERENDIPITY (Jungkok & Yumna)
  • The Right Our Fate
  • The Lucky Exo-L
  • ✅MY ENEMY'S FRIEND (MARKHYUCK VER.) END
  • Hoping For More Good Days
  • 𝐓rust 𝐘our 𝐆ut : 𝐃𝐮𝐭𝐲 𝐀𝐟𝐭𝐞𝐫 𝐒𝐜𝐡𝐨𝐨𝐥  [tidak dilanjutkan]
  • Back and Forth (Duty After School x F.Readers)
  • Okay, We're Married on July
  • My Life ( Lookism edition )
WIANBU

Namaku Lee Seolhee. Usiaku baru menginjak 12 tahun ketika tentara-tentara Jepang mengambilku dengan paksa dari tangan ibuku. Bersama puluhan gadis malang lainnya, aku melewati masa-masa perang sebagai budak seks untuk tentara Jepang. Kami mengikuti para tentara itu ke berbagai tempat di Tiongkok. Kurang sandang pangan, kekerasan fisik, diperkosa, tertular berbagai penyakit menular seksual, semua itu harus aku alami di masa remajaku. Satu persatu dari gadis-gadis yang mengalami nasib sama denganku mulai mencabut nyawa mereka sendiri. Tapi aku bertahan. Kini di usiaku yang telah renta, masa lalu kembali mengintai. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menukarnya dengan harga diriku yang tinggal segenggam ini. Namun semua ini harus kulakukan demi sebuah titik terang akan keberadaan adikku, satu-satunya keluargaku yang tersisa, yang hilang lima puluh lima tahun silam

More details
WpActionLinkContent Guidelines