Di Bawah Payung

Di Bawah Payung

  • WpView
    Leituras 3
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Capítulos 1
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização dom, mai 13, 2018
WpInfo
Ficção
Romance
Dear Hujan,, Mengapa kau turun dengan mengikat rindu saat ku tak lagi menginginkannya , mengapa kau selalu membuat orang yang ingin melupakan menjadi tak berdaya untuk meninggalkan. Ketika pertama kali aku menulis surat ini entahlah apa yang ku pikirkan, hanya saja aku menuangkan setitik demi setitik tinta ini untuk menuliskan rinduku padanya. Jika rindu memang berat untukku, ku mohon buatlah rindu ini sirna seketika dengan begitu aku tak lagi mengkhawatirkannya. Aku memang tak pandai merangkai kata demi kata untuk menggambarkan rindu ini, tapi aku mencoba menggambarnya dengan perasaan lewat sebuah pena dan selembar kertas yang kini sedang ku genggam yang perlahan-lahan tangan ku bergerak untuk menuliskannya. Aku juga memang tak pandai menampakkan, tapi ku coba dengan mengukirnya lewat kehidupan. Sudah berapa kali aku mencoba untuk menghilangkan rindu ini kepadanya, tapi tetap aku tak bisa untuk meninggalkan. Tetaplah rindu menjadi bayangan waktu yang terus mengejar membuatku seolah terjebak dalam kenyataan. Jika surat ini tak mampu mengantarkanku untuk bertemu dengannya setidaknya aku menitipkan rindu ini kepadamu. Dear Hujan,, Ku titipkan rindu ini untuknya lewat suara gemericik air yang membisingkan dan merindukan kenangan di bawahmu bersamanya. Salam rinduku, Kara
Todos os Direitos Reservados
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Mahligai Sunyi
  • Hiperbola Hati (COMPLECTED)~
  • Sedna
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • Rinai Hujan
  • Tentang dia (END)
  • Teruntuk kamu, Septemberku ♥
  • Antara Jarak Dan Waktu

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo