My Rival is My First Love

My Rival is My First Love

  • WpView
    Reads 551
  • WpVote
    Votes 72
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 6, 2019
Lahir dengan paras yang rupawan. Perpaduan antara rahang tegas, hidung mancung, kulit putih bersih yang pastinya tanpa komedo sedikitpun, dipadukan dengan warna mata yang begitu indah yaitu biru kehijauan, serta bibir pink yang sedikit berisi sehingga terlihat seksi dimata kaum hawa. Dingin, mengerikan namun mempesona. Itulah kalimat yang tercetus dibenak siapapun yang melihat Alvaro. "Gue nyesel udah bikin lo benci sama gue, hanya karna mulut sialan ini" _Alvaro Kaylano pratama_ Manis. 1 kata itu cukup untuk menggambarkan seorang Atasyafa Shalsa Nursalim. Mengapa manis? Karena Tasya memiliki wajah bak anak kecil. Imut-imut gimana gitu, atau bahasa kerennya sih baby face. Pipinya yang agak berisi dipadukan dengan kulit putih kemerahan membuat siapapun yang melihat ingin mencubitnya, hidungnya kecil namun mancung itu sukses membuat semua cewek di SMA Pratama School memandang penuh kekaguman, dan yang terakhir bibirnya yang tipis berwarna pink natural disertai senyuman ramah yang senantiasa ditampilkan itu sukses membuat kaum adam meleleh. Tasyanya kaum adam. Iya, Tasya sudah diklaim sebagai milik bersama oleh para lelaki. Bukannya bermaksud apa-apa, para lelaki kini sudah lelah memperebutkan Tasya sejak pertama kali Tasya menginjakkan kaki di SMA Pratama School. Mereka sadar, Tasya tidaklah sepadan dengan mereka yang hanya rempahan rengginang. "Kenapa lo dateng pada saat gue udah benci sama lo?" _Atasyafa Shalsa Nursalim_
All Rights Reserved
#36
siblinggoals
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Fractured Cheerfulness (On Going)
  • ALTARSYA
  • BAD COUPLE [VELJESHA] (DI BERHENTIKAN)
  • Awas Jatuh Cinta
  • RAIHAN
  • SATU DARAH
  • LUKA BIASA GADISKU
  • ALISYA &Alvaro
  • We Will be Ok

"Lo beneran bego, Fin. Gimana sih, gini aja lo ga ngerti-ngerti?" Satria menggelengkan kepala frustasi. Alfina cuma bisa cengengesan. "Jangan bosen ngajarin gue, ya." Di balik senyum yang tak pernah hilang, Alfina Adzra Wardana adalah anak yang terjebak di antara dua dunia. Dunia di mana dia terlihat ceria, ekstrovert, dan penuh semangat. Tapi ketika bel tanda pelajaran berbunyi, dia lebih memilih untuk menghindar daripada berhadapan dengan angka, rumus, atau teori-teori yang malah bikin pusing. Matematika? Ekonomi? Hanya kata-kata kosong yang dia coba terjemahkan dengan senyum yang terus dipaksakan. Satria, cowok yang dipaksa jadi tutor pribadi Alfina, udah sampai titik frustasi. "Lo bener-bener bego!" katanya, meskipun di balik itu, dia enggak bisa menahan rasa kagum pada dunia Alfina yang penuh warna dan seni. Karena ada satu hal yang Alfina tahu dengan pasti: dunia seni adalah tempat dia bisa bersinar. Setiap goresan kuas di kanvas adalah tempat dia bisa bebas, tanpa perlu penilaian orang lain. Tapi di rumah dan di sekolah, ada satu sosok yang terus dibandingkan dengan Alfina-adiknya Thalita, yang cerdas dan selalu jadi juara kelas. Alfina merasa dirinya selalu kalah. Di balik kebingungannya dan perasaan tak cukup, Alfina mencoba menemukan cara agar bisa berjuang untuk dirinya sendiri. Tapi, apakah itu cukup? Dan di tengah semua itu, apakah Satria, yang frustrasi mengajar, bisa melihat potensi besar dalam diri Alfina yang selama ini dia abaikan? Apakah Alfina bisa melepaskan diri dari bayang-bayang adiknya? Apakah Satria bisa melihat lebih dari sekadar kegagalannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines