Lifera

Lifera

  • WpView
    Reads 4,521
  • WpVote
    Votes 986
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Aug 31, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
"Tawa yang menjadi penyamar luka." Lifera Amelya Dewitahari. Gadis cantik dengan sikap seperti wanita pada umumnya. Ia nampak sempurna banyak pria yang ingin memilikinya, hanya saja itu pujian belaka. Goresan luka oleh sang masa lalu, membuatnya enggan untuk mengenal kembali cinta. Sampai pada sang takdir yang mempertemukannya dengan lelaki, yang berhasil membuat hidupnya terasa berbeda. Lebih kuat dan berwarna, entah kelabu ataupun indah. Forest Dewanolan. Ialah sang alasan timbulnya tangis dan tawa untuk Lifera. Sosok yang dengan tiba-tiba mengaku sebagai calon pacarnya, setelah insiden keributan antar keduanya. "Kata maaf aja gak cukup! Lo terlalu sadis nyakitin gue."~nona sun "Gue ingin memutar waktu, andai gue tahu kalau gue bisa sesayang ini sama lo. Pasti yang gue kasih bukan tangisan, melainkan kebahagiaan."~tuan moon Cerita amatir dari si penulis kecil amatir;-) Let's go read Lifera:)
All Rights Reserved
#276
forest
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rama Prananta (Sudah Terbit)
  • ANTARA KITA DAN CERITA
  • FRIENDzone (Completed)
  • About You Radit! (Selesai + Revisi)
  • Cewek kaktus
  • Love & Enemy
  • Arsyilazka
  • DAVARA
  • Because I'm Stupid (End)
  • NAKALA DAN TAWANYA

"Kenapa sih lo gak mau pacaran?" tanya Rama. "Buat gue, pacaran itu gak jelas dasarnya. Karena hanya di dasari sebuah perasaan. Sedangkan yang namanya perasaan kan dinamis, berubah-ubah. Gak pasti, gak jelas, gak signifikan." jawab Rose dengan santai. "Lo harus coba buka hati. Lo harus coba pake perasaan, dengan begitu lo akan ngerti kalau perasaan itu gak sesempit yang lo kira dan gak sedangkal teori yang lo cetuskan." "Caranya?" "Pacaran sama gue." *** Rose yang selalu menggunakan logika di banding perasaan karena ada trauma mendalam yang berkepanjangan. Sedangkan Rama selalu saja berusaha mengulik luka tersebut. Rose berusaha agar tidak ada yang mengetahui luka tersebut, termasuk Rama. Namun, Rama tak pernah kehabisan cara untuk meruntuhkan pertahanan tersebut. *** "Nama lo bagus, sama kayak artinya, mawar. Indah, tapi gak semua orang bisa mendapatkannya. Tapi gue yakin, gue bisa dapetin lo. Selayaknya bunga mawar, lo punya duri buat ngelindungin diri. Jadi gak sembarangan tangan bisa ngedapetin lo. Kalau ada yang nekat, paling tangannya luka kena duri. Tapi gue bisa jamin, gue adalah orang yang pantes buat dapetin lo. Walau harus terluka." -Rama Prananta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines