Aleena & Dia

Aleena & Dia

  • WpView
    Reads 332
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 30, 2019
Saat aku kecil, aku berpikir bahwa menjadi remaja itu menyenangkan. Banyak hal yang dapat ku lakukan tanpa ada pengawasan dari mama papa. Haha, ternyata realitanya tidak seindah itu. Ternyata tumbuh menjadi dewasa membutuhkan bahu yang kuat untuk bisa terus bertahan. Ma, Pa, Ina mau balik ke umur 4 tahun lagi. Ina mau beli boneka barbie lagi, Pa. Ina mau main bareng teman-teman Ina tanpa harus mikirin PR dari sekolah. Ina mau tidur nyenyak tanpa harus nangis dulu. Ina mau kenalan sama banyak orang tanpa harus insecure. Ma, Pa, Ina mau balik kecil lagi...
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Ongoing Delusions
  • ALFA [selesai]
  • Ilusi
  • BABY BOY ( REVISI SEKALIAN MENYUSUN PART END )
  • DEANDRA (Dangez Gang)
  • ALDRIC [END]
  • EVAN [ON-GOING]
  • This Is My Dream
  • Naufal

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines