Banyak orang yang berkata perihal jodoh merupakan orang terdekat kita , bisa jadi ia teman semasa sekolah dulu, teman se-komplek perumahan, se fakultas, satu organisasi atau satu tempat kerja.
tapi ..
apakah salah kalau hati mulai berharap ?
"Aku tidak teman sekolahnya, tidak sekomplek, tidak sefakultas, tidak satu organisasi atau tempat kerja"
"tapi setidaknya kami satu negara dan satu provinsi"
Apakah salah kalau hati mulai memilih?
"Aku ingin laki-laki seperti dia.."
"Aku ingin dia menjadi jodoh ku"
"tapi dia tidak kenal aku..."
"bertemu saja kami tidak pernah..."
"Aku menemukannya lewat sosial media"
"Dia populer di lingkungannya, banyak yang mengaguminya"
Aku hanyalah mahasiswi biasa, yang selalu hadir dikelas tepat waktu, walau kadang-kadang suka terlambat karna nungguin temen ( ikut nebeng ke kampus), rajin shalat (insyaAllah) , doa-in kamu (always gak pernah lupa).
Apakah boleh yang biasa-biasa aja dapat yang populer?