BELIEVE

BELIEVE

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 7, 2020
Vino sangat pusing, dia butuh menyegarkan pikirannya ke kamar mandi. Eitss! Bukan apa- apa, tetapi ingin mencuci wajah yang sudah menjadi keharusan bila sedang pusing dan perlu sesuatu yang menyegarkan. "Tia." Vino berkata dengan suara lembutnya, "..." tidak ada jawaban. "T-I-A!" sontak ucapan Vino membuat Tia shock, akhirnya dia mencabut headset yang ada di telinganya. "Apaan?!" suara agak seraknya pun keluar. "Jadi cewek lembut dikit napa sih?! Gini, gua mau ke kamar man--" belum sempat Vino berkata, Tia sudah menyambar duluan. "Yaudah sana, ntar kalo soal pr biar gue jagain. Kalo telpon biar gue angkatin." ucapnya tanpa menatap Vino, yang ditatap hanya bisa diam dan menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian.. Tia ingin mengambil minuman yang berada di meja belajar Vino, Tia tidak melihat keadaan sekitarnya dengan baik, hanya menatap layar ponselnya. Hingga akhirnya minuman itu tumpah dan mengenai buku mtk Vino. Shit! "Ya lord.. Buku Vino! Gimana ya?! Aduh.. Abis deh gue dimaki-maki." gue hanya bisa menggaruk kepala yang nggak gatal karna takut si mata tajam natap gue lagi. Tia hanya membersihkan minumannya, Tia lap lalu Mendirikan gelasnya seperti semula. Benar-benar tidak tahu diri. Bodo ahk! to be continued
All Rights Reserved
#4
bestrong
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bucin (Completed✅)
  • Cute Boys.[Bl]
  • Ending Transmigrasion ? [ End ]
  • figuran tranmigrasi (ON GOING)
  • Figuran Dalam Novel BL
  • [Transmigrasi BIAN] END✔️ REVISI
  • Hurt Love
  • OMG, i really liked him
  • My Loneliness

"Noh minta maaf sama Zela bukan gue, mungkin dia masih sahabat lo" Kata-Kata Vini terdengar dingin di telinga gadis menyedihkan ini. "Vin..." Ucap Dinda lirih tak sanggup lagi untuk berkata-kata. Jujur Dinda tidak mengerti maksud Vini berkata seperti itu. "Kenapa? lo nanya gue? sorry gue ngak bisa maafin lo, lo bukan orang yang gue kenal lagi Din..." Vini menggantungkan ucapannya, sangat berat melanjutkannya, tapi inilah takdirnya "-gue ngak mau punya temen bucin kayak lo" Vini menekankan kata bucin disana, dan kali ini nada bicaranya naik satu oktaf, mungkin bukan satu oktaf lagi, tapi sudah ratus oktaf hingga nafas Vini terasa sesak mengatakannya. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini jatuh berderai di pipinya." Gue tau gue salah Vin, maafin gue" Perkataan maaf tak pernah habis dilontarkan oleh mulut Dinda. ~Ketika kekecewaan mencapai puncaknya, ia bisa menghancurkan pertahanan yang sudah lama di bangun dengan sepenuh jiwa~

More details
WpActionLinkContent Guidelines