Phorhea

Phorhea

  • WpView
    Reads 235
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 14, 2018
Dari seluas angkasa raya ini apakah hanya di bumi yang memiliki kehidupan? Itulah sebuah kalimat yang hanya ada didalam pikiran seorang gadis umur 16 tahun ini, Violet Dwirania Dewandara. Malamnya yang panjang hanya dihabiskan untuk mengamati langit. Seorang gadis dengan sejuta tanda tanya tentang alam semesta yang sangat amat luas ini bisa dibilang, astronom amatir. Namun siapa sangka, hobinya yang suka 'mengintip' dewi malam yang tengah berpesta dengan teman-temannya itu berujung nyawa taruhannya. Sebuah portal spiral tiba-tiba saja mengantarkannya ke sebuah planet misterius, Sebut saja Phorhea. Planet yang memiliki kehidupan yang sama seperti di bumi. Tak seperti yang ia bayangkan, 'kehidupan lain' yang ia maksud justru malah akan membahayakan tempat tinggal aslinya. Bersama kakak dan adiknya, Violet menjelajah ruang dan waktu untuk menyelamatkan bumi.
All Rights Reserved
#19
antares
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cermin Ke Dunia Aetheria
  • Allenka Family
  • Cakrawala Tertukar
  • Arthea: Nevalia
  • Only Siblings
  • BOBOIBOY : ANGKARA LAIN
  • Celestark Force : The First Awakening
  • Bring Me to Life [END]
  • Galaksi✓
  • Twinblossom

Raina, gadis 16 tahun dengan rambut sebahu dan tatapan selalu penasaran, berdiri terpaku di depan rumah tua yang diwarisi dari neneknya. Bangunan itu berdiri seperti bangkai raksasa di tengah desa kecil bernama Windmere, penuh dengan tanaman rambat dan cat yang mengelupas. Tapi yang paling menarik perhatian Raina bukan dindingnya, melainkan cermin besar di loteng, berbingkai perak dengan ukiran aneh seperti simbol bintang, mata, dan akar pohon. "Aneh... kenapa cermin ini dingin sekali, padahal lotengnya panas," gumam Raina, meletakkan tangannya di permukaannya. Begitu jari telunjuknya menyentuh simbol di sudut kanan atas, udara di sekitarnya bergelombang. Cermin itu bersinar lembut biru, dan permukaannya mulai berputar seperti pusaran air. Sebelum Raina sempat mundur, sebuah suara terdengar di dalam kepalanya: "Pewaris Cahaya, waktumu telah tiba." Dan dalam sekejap, tubuhnya tersedot ke dalam pusaran itu. Raina terjatuh di atas rerumputan ungu dan langit jingga - dunia asing yang tampak seperti mimpi dan mimpi buruk bersatu. Makhluk bersayap perak melayang di udara. Pohon-pohon berbisik. Di kejauhan, berdiri sebuah menara kristal yang memancarkan sinar ke langit. "Selamat datang di Aetheria," kata seorang anak laki-laki sebaya yang tiba-tiba muncul di sampingnya. "Kami sudah menunggumu selama dua abad."

More details
WpActionLinkContent Guidelines