kita 180°

kita 180°

  • WpView
    Reads 512
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 22, 2019
"Ata.... kamu melamun lagi?" Terdengar suara bass yang menggema di kamarku yang selalu sepi. Aku menoleh kearah ranjangku. Dan pria itu duduk disana, memandangku dengan tatapan ramah. Aku menatapnya sekilas kemudian kembali memandangi mentari yang sudah berubah warna menjadi warna senada dengan jeruk matang itu dan mencoba melanjutkan pikiranku yang entah berada dimana sedari tadi. "Kenapa kamu tidak menjawabku putri?" Aku kembali melihatnya sekilas yang sekarang sudah bangkit berdiri disampingku dan tangannya menyentuh bahuku. "Jangan biarkan dirimu tenggelam putri." Katanya ramah, aku juga merasakan tangannya bergerak berpindah ke rambut hitamku dan mengacaknya sayang. "Bicaralah jika ingin bicara, menangislah jika memang hatimu sakit, dan cobalah mencari sebuah harapan. Putri adalah seorang manusia." Kata-kata itu sangat bijaksana dan pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Tapi tidak denganku, aku hanya menunduk ragu hingga sebuah tangan memegang daguku dan mengangkatnya hingga aku mampu menatap mata itu. Mata coklat ramah, yang sekarang terlihat tajam dan yakin terhadap sesuatu. Aku tak pernah tau kenapa sesuatu dalam dadaku bergetar hebat setelah sekian lama seperti ruang hampa tak berpenghuni? Apakah benar aku jatuh cinta? Tidak mungkin aku jatuh cinta dengan makhluk khayalanku saja bukan? ****
All Rights Reserved
#116
cupu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hitam Putih Cinta [Terbit Ebook]
  • Vericha Aflyn ✔️
  • Mahligai Sunyi
  • SALAH RASA (TAMAT)
  • Hug me! (my lady)
  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • GRIZLEN {On Going}
  • Gio Davandra

Adikku mencintai pacarku. Dan pacarku pun mencintainya. Begitulah... Aku hancur, remuk, berkeping-keping. Merangkak, tertatih, aku mengumpulkan kembali kepingan-kepingan hati yang tercerai berai. Meratap, aku berusaha menyembuhkan luka hati walau sedikit demi sedikit. Dan aku merelakannya... Tapi ketika aku telah mampu menata hatiku, ketika aku telah hampir melupakannya, kenapa lelaki itu harus kembali ke kehidupanku?

More details
WpActionLinkContent Guidelines