Precognition

Precognition

  • WpView
    Reads 130
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 26, 2018
Pemuda berbadan tegap itu berada disebrang jalan kulit yang sedikit gelap juga bahu yang lebar menambah nilai dirinya dimata kaum hawa, lalu lalang kendaraan tak menyulitkan mata kami untuk terpaut beberapa detik kemudian. Keadaan berubah menjadi senyap seketika, Bunga Pohon Flamboyan Emas disekitar kami berjatuhan. Dari pupil mata pria yang tak ku kenal dan ku ketahui asal-usulnya ini ku melihat terdapat kerumunan orang yang bersuka cita, sepasang cincin, dan seorang wanita pengantin yang wajahnya tertutup tudung putih dan gaun yang sangat anggun. Prosesi yang bahagia batinku pada saat itu dan entah kenapa sesaat kemudian kepala ini rasanya lebih berat dari sebelumnya, pria yang kulihat disebrang jalan sudah tidak berada pada tempatnya berdiri disana. "Aaarrghhhh." pekikku seraya memegangi kepala yang rasa sakitnya sudah tidak tertahan lagi disusul dengan jeritan orang-orang disekitar yang menyentuh pundakku untuk sekedar menanyakan keadaan gadis aneh yang tiba-tiba menjerit disekitar mereka. Padanganku semakin kabur. Tidak, bukan, bahkan aku sudah tidak melihat apa-apa lagi disebrang sana. Mataku terkatup erat setelahnya namun bibir kecilku berkehendak seakan menentang respon yang dikirimkan oleh otak. "Orang itu, gue ngeliat masa depanya." Slow Update
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Little Girl : Love Story Begins [END]
  • Jangan Pergi, Ayi
  • Narasi patah hati
  • Kasat Rasa [Ongoing]
  • Thats my Love
  • feelings of love
  • K I N G [Completed]
  • My Duchess / End
  • Aksara Lingga

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines