Misteri Library School

Misteri Library School

  • WpView
    LECTURES 1,269
  • WpVote
    Votes 53
  • WpPart
    Chapitres 8
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., avr. 24, 2020
WpInfo
Fiction
Horreur
Banyak hal yg telah terjadi. Seperti selalu adanya teror di perpus, adanya sosok gaip yg lewat sekilat, adanya bunyi seretan bangku, dan buku berwarna biru muda dengan bercak merah darah jatuh. namun ketika ada yg ingin mengambil dan membaca buku itu, si penjaga perpus dengan suara lantang melarang. Semua itu yg di alami oleh geng Anarkis.. Karena penasaran dengan apa yg selama ini terjadi di perpus dan penasaran dengan si penjaga perpus. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari tahu. Dengan terlibatnya mereka. Sesuatu hal yang buruk terjadi, antara selamat atau malah sebaliknya. Dan ternyata..... ●●●●●●●●●● # 3 Dalam tersembunyi ( 25.05.18 ) # 7 Dalam keras kepala # 27 Dalam misterius # 369 Dalam horor # 451 Dalam horror # 57 Dalam Keras kepala # 37 Dalam tersembunyi # 878 Dalam misterius # 670 Dalam Misterius
Tous Droits Réservés
#995
misterius
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Kisah Horor: Teror Jam 12 Malam
  • Malam di Apartemen 13: Ketika Dendam Arwah Menjadi Nyata
  • Cerita Fara -Terror
  • Arkanthia: Bayang-Bayang di Menara Aetherion
  • Enough [Hiatus]

Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu