Hanya tiga kata yang mampu menggambarkan kisah mereka.
Januari sampai Juni.
Juni pikir, itu adalah periode waktu yang mereka habiskan untuk bahagia, namun siapa sangka selepasnya mereka kehilangan salah satunya, mereka tidak bisa terus tertawa lepas, tapi mereka bisa menangis sampai mencapai konsekuensi berkabung.
Tidak, bukan mereka, hanya; Febri.
Kini tinggal Febri-berjuang sendirian di tengah badai penyesalan dan kehancuran yang tak terelakkan.
Waktu berjalan maju tanpa ampun, tetapi ingatan Febri terhenti di sana, pada momen-momen sederhana bersama Juni. Pada kertas kecil berisi ucapan semangat. Pada janji-janji yang tak lagi berarti.
Karena Februari hingga Juni bukan hanya tentang cinta, tetapi tentang kehilangan, pengkhianatan, dan pertanyaan: Bisakah seseorang benar-benar melepaskan apa yang paling berharga?
°°°
Epoch,
2018
Lauren dan Sam bukan kisah yang keras-keras jatuh cinta-mereka tumbuh pelan, dari tatapan singkat, senyum kecil, hingga diam yang saling mengerti.
Di balik bangku sekolah yang sederhana, mereka menulis cerita.
Tentang tawa yang tak dibuat-buat. Tentang genggaman yang nggak selalu erat, tapi hangat.
Dan tentang janji-janji kecil yang mungkin... cuma untuk dikenang.
Tapi waktu nggak pernah berhenti berjalan, dan orang-orang nggak selalu tinggal.
Kini, mereka duduk di ujung dunia yang berbeda-masih saling ada, tapi tak lagi saling punya.
Lalu, jika satu surat bisa membuka kembali pintu yang tertutup rapi,
masih pantaskah kisah mereka kembali dibaca?
------------