Biar Aku Yang Tersakiti

Biar Aku Yang Tersakiti

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 8, 2018
Kau tau, bagiku melupakan semuanya sangatlah susah. Mengertilah bahwa aku tak sepertimu. Aku tak semudah itu mencari kekasih lain, kau tak sama sepertiku. Kau ditakdirkan tuhan menjadi seorang laki-laki yang harusnya melindungi, bukan membuat hujan air mata. Aku hanya berusaha ikhlas, karna menyadari semua tak seperti dulu lagi. Aku hanya wanita yang menjadikanmu impian yang tak akan menjadi nyata. Bahkan aku membiarkan naluriku untuk tetap menyayangimu sampai detik ini. Meskipun aku merasakan sakit yang teramat pedih di dadaku dan airmata yang entah kapan berhentinya mengalir. Namun, apa kau akan sadar nantinya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • seribu tanya tak terjawab
  • Unfinished Goodbye
  • My Dear Jannah
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Dear Kamu : My One and Only Crush On My Life
  • Regrets of Love
  • Backstreet
  • Ambiguous
  • Kamu [SELESAI]✔

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines