"Dia hanya teman. Tidak kurang dan tidak lebih." Bodo amat kalau orang lain memandangku begitu. Tapi, mau tidak mau aku jadi kepikiran karena kalimat itu keluar dari mulut sahabat se-bocil se-remajaku, Putra. Dan sebenarnya aku tidak perlu cemas karena itu terjadi di alam mimpi. Yah, seandainya aku bisa tenang kalau mimpi-mimpi burukku tidak menjadi kenyataan. Fenomena aneh ini telah kualami sejak masih SMP. Apa kali ini pun, aku harus menaggung rasa sakit dan putus asa sendirian? "Satu-satunya gadis yang bisa membuatku tersenyum dan merasa bahagia hanya dengan melihatnya." Astaga. Siapa yang Putra maksud dalam tulisannya itu? Bagaimana kalau ia benar-benar akan pergi meninggalkanku?
Più dettagli