DEATH
  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Jun 3, 2018
Apakah kalian pernah membayangkan kapan kalian akan mati ? Tahun depan, bulan depan, minggu depan, lusa, besok, atau sesaat setelah ini. Kalau pernah, apakah kalian juga pernah berfikir seperti apa kalian akan mati ? Tenggelam, terbakar, hancur, atau bahkan lenyap tak bersisa. Bagaimana jika kalian dapat melihat kapan terjadi kematian tersebut ? Menyeramkan bukan? Iya, itulah yang kurasakan. Dengan mata yang memancarkan aura kematian dalam kegelapan inilah aku dapat melihatnya. Kisah ini tidak berfokus tentang masa-masa di hidupku, tetapi ini adalah kisah yang menceritakan tentang perang besar. Perang antara 3 ras golongan yang akan segera terjadi. Perang antara iblis, malaikat dan juga manusia. Perang yang akan menentukan ras mana kah yang paling layak untuk tetap ada. Malaikat?? Iblis?? Atau kah manusia yang akan bertahan hingga akhir peperangan? Tapi, tidak ada yang tidak mungkin, bisa saja ketiga ras tersebut akan lenyap bersama untuk selamanya. Catatan : Bagi yang sudah membaca, harap tinggalkan sedikit saran atau kritikan pada cerita ini.
All Rights Reserved
#496
manusia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE DEMONIC YOUNGEST DAUGHTER
  • vampire death cure (Brutal Legend au)
  • Boys With Luv
  • Shadow Order
  • GRACLE BLACKSMITH
  • Pangeran Kegelapan
  • Iyrin : Di Balik Sayap dan Bisikan (HIATUS)
  • ALZEA (TERBIT)
  • Cruel Fate
  • Unholy Insurgency : The God's Slayer

Aku tahu takdir memang selalu bercanda padaku, mungkin lebih tepatnya merundungku. Sedari awal hidupku tidak berjalan baik. Bukan, bukan melarat apalagi bekerja bagai kuda hanya untuk sesuap nasi, tetapi menjadi anak dari konglomerat yang meneteskan liur pada reputasi. Aku lah anak yang ditempa sekeras mungkin oleh orangtuaku untuk meraih reputasi impian mereka. Kurasa meski aku hancur berkali-kali, tumpul berkali-kali, dan berkarat berkali-kali; orangtuaku masih menarik leherku dengan paksa untuk bekerja demi reputasi mereka. Aku yang hidup seperti itu, kurasa dengan mati setidaknya bisa terbebas. Namun, bak keluar kandang buaya masuk kandang harimau, aku terbebas dari orangtuaku akan tetapi jatuh ke dalam genggaman entitas lain. Dewa yang menyeretku paksa untuk menjalani kehidupan seseorang yang kuberi iba secuil biji jagung. Libitina Kaltain. Karakter dari novel yang kubaca kala memiliki waktu luang sebiji kecil. Bukan, bukan pemeran utama yang menakjubkan apalagi pemeran penjahat. Tapi hanya pemeran pendamping yang bahkan hanya muncul sekali. Sang tumbal peperangan, keturunan yang menyedihkan dari Keluarga Kaltain. Anak yang hanya muncul saat keluarganya mengorbankan dirinya demi memenangkan peperangan. Anak yang malang, begitulah kupikir. Jika tahu rasa Ibaku yang ternyata membawaku ke sini, maka lebih baik kuludahi saja namanya. Libitina Kaltain, aku hidup kembali dalam tubuh penuh luka dan tak berdaya miliknya. Menjalani hidup menyedihkan Libitina yang bahkan lebih rendah dari budak, dianggap sampah keluarga yang tidak pernah dipandang. Aku hidup sebagai dirinya, sekaligus menanggung takdirnya yang entah apa. Bersamaan dengan kebingunganku pada Dunia dan takdirku sendiri, kata mengapa yang menggerayangi. Mau bagaimanapun aku harus bertahan di sini, meski bersamaan dengan kemarahan yang tumbuh membukit, serta dendam dan kebingunganku. Mungkin juga secuil harapanku. . _____________________ Warning: terdapat kata-kata kasar! Slow update

More details
WpActionLinkContent Guidelines