Terdampar di Langit

Terdampar di Langit

  • WpView
    Reads 145
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 9, 2019
Beberapa menit lagi langit akan runtuh. Payung biru di atas sana, kini mulai retak seperti bangunan tua yang rapuh. Dunia kacau. Dan tak ada seorang pun yang bisa menghalau. Guncangan di atas sana bahkan sampai di ujung kaki setiap orang, menggetarkan setiap selnya, sebelum akhirnya menundukkan mereka dengan penuh kekalahan. Dunia tanpa langit, dunia tanpa kehidupan. Tak ada lagi yang namanya senja, apalagi hujan yang selalu dirindukan. Mereka hanya bisa bernaung di bawah kesedihan tanpa ada lagi atap biru tempat hari berlalu. Dunia hanya bisa meratap pilu. Entah apa yang akan terjadi setelah itu? Semua orang hanya terdiam tak tahu.
All Rights Reserved
#561
perang
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Midwest Princess
  • Permainan Takdir [TAMAT]
  • Kafka
  • Bentangan Payung Biru
  • Senja Terakhir Semesta✔️
  • Light Of Happiness [✓]
  • Senja Termendung
  • [✔] Ketujuh Pilar
  • Cinta Dua Waktu

"Dengarlah, anak-anak Crimson... tentang langit yang dulu bersinar, dan kini menangis darah. Pernah ada masa, jutaan tahun silam, saat sayap terang dan tanduk gelap bertarung di atas awan. Malaikat-pembawa harapan. Iblis-penggenggam kehancuran. Mereka menari di langit, mematahkan bintang-bintang, dan bumi menjadi panggung untuk dendam yang tak selesai. Gunung meledak, laut berubah bara, dan doa-doa jadi abu dalam perang yang tak berakhir. Tak ada pemenang, hanya dunia yang retak. Crimson-namanya lahir dari luka, warna tanahnya pun seperti hati yang pernah dicabik taring neraka. Kini... roh gentayangan mengeluh di lorong-lorong senyap, bayangan berjalan tanpa tubuh, dan sihir-ah, sihir kini lebih mirip kutukan daripada keajaiban. Tapi dengarlah baik-baik, di tengah reruntuhan dan langit yang patah, selalu ada satu cerita kecil yang berani menyalakan nyala- meski api itu kecil dan nakal, ia bisa jadi awal dari sesuatu yang lebih besar..." (Si penyair menutup matanya, tersenyum pelan. Dan angin Crimson kembali berbisik)

More details
WpActionLinkContent Guidelines