Luka Seorang Perempuan

Luka Seorang Perempuan

  • WpView
    Reads 627,025
  • WpVote
    Votes 50,513
  • WpPart
    Parts 36
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 8, 2021
Aku mencintaimu tanpa henti. Bahkan Tuhan pun mungkin cemburu dengan rasa ini karenamu. Tapi sekilas waktu kau pergi. Meninggalkan jejak luka dalam hati. Aku merelakanmu. Kesakitanku mencintaimu cukup menyadarkanku bahwa tak selamanya apa yang dinamakan cinta akan selalu menjadi indah. !!! Kisah ini hanya fiktif belaka. Dan menguras emosi dan air mata. Namun dijamin, ada kejutan dalam cerita ini. Insya Allah bikin baper gak ketulungan. Wkwkwkk Plagiator jangan hinggap! Karena cerita ini bisa dibilang berbeda. Sekali sama, itu namanya plagiat. Ingatlah Allah dan kemudian pembaca yang jadi saksinya. Ketemu di pengadilan Allah saja kelak jika masih berani memplagiasi karya ini.
All Rights Reserved
#21
airmata
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • 04:Love Struggle✔
  • SELF LOVE
  • JADE
  • Strong Girl Michella (END)
  • Let Me Love You Longer
  • Love until death | TAHAP REVISI
  • As Time Allows
  • Tanya Pada Waktu (On Going)
  • Different [END]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines