SENDU
  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 5, 2018
Beberapa konflik yang dibungkus dalam sebuah cerita. *** Bukankah diriku ini ciptaan Tuhan? Jika kalian mengejekku sama saja dengan mengejek-Nya! Jika kau membuat sebuah gambar apapun itu lalu aku mencercanya, siapa yang akan merasa sakit hati dan marah? *** Jangan lupakan aku, jangan lupakan keberadaanku. Ku mohon. Ayah, ibu. Tidakkah ayah dan ibu berpikir bahwa suatu saat kalian akan menua? Dan siapa yang pertama kali kalian cari? *** Ku kira semuanya akan berbeda karena aku mencoba menjauhi segala hal apapun yang berkaitan dengan mereka. Tapi kenyataannya, sebuah hal serupa terjadi lagi. Kenangan buruk dimasalalu terulang lagi. Kali ini lebih menyakitkan, mereka merisakku dengan cara tidak langsung. Aku tak bisa terus berdiam diri dan melakukan hal yang sama, aku harus melawan. *** Ketika dia hadir dan memberi warna baru dalam kehidupanku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Semesta (offGun)
  • Regrets of Love
  • Juan [REVISI]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Nyra Jingga
  • MY LOVE STORY
  • My Perfect Arland

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines