ResteAvecMoi

ResteAvecMoi

  • WpView
    Reads 224
  • WpVote
    Votes 17
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 30, 2019
1985 Aku tidak mencintainya dan juga tidak membencinya. karena aku sadar, aku telah menjalani takdir yang harus aku lewati. aku tak tau sampai mana aku harus berhenti. jika sama sama tersakiti, aku yang akan memilih pergi. Aku tidak menyangka hidup yang aku bangga banggakan akan menjadi akhir yang aku sesali. Bagaimana aku menerima kenyataan pahit dalam hidupku?. Mencintai seseorang yang tak mencintainya. Ikuti kisahku yaaa di jaman 1983 di saat semua berubah menjadi suram.
All Rights Reserved
#1
19tahun
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • JODOHKU ISTRIKU [selesai]
  • Takdirku Memilihmu
  • You're Here, But Not For Me
  • BENANG MERAH (End)
  • Pyaar Galliyan
  • Indahnya Dimadu? | SELESAI |
  • Marriage is not in the plans ( Selesai)
  • LOVE IS YOU (Tahap Revisi)
  • Di Ambang Perceraian

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines