My Diary
  • WpView
    Reads 57
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 26, 2018
Diary itu... teman sejati yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Disaat semua orang membenciku, hanya dia yang mau berteman padaku. Diary bukan hanya sekedar teman. Tapi dia lebih dari itu. Lebih dari pacar. Lebih dari saudara. Diary itu lebih dari segalnya. Disini, aku curhat tentang keseharianku. Tentang kisahku yang sangat bermasalah. Aku ingin membagi masalah itu lewat Diary. Hanya Diary yang dapat mengerti aku. Hanya Diary yang mendengarkan aku. Semua kesedihanku aku muntahkan ke dia. Semua ada di Diary. Yah Benar!! Cuma Diary!! [PLEASE VOTING MY STORY AND FOLLOW MY ACOUNT WATTPAD]
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lovakarta
  • Why Me?
  • Verronica (COMPLETED)
  • A true friend? || Balas Dendam?
  • SECOND LEAD
  • Friendzone (COMPLETED)
  • Honestly Hurt [COMPLETED]
  • The Devil Possession ✔ [SUDAH TERBIT]
  • KEVIN
  • IS IT LOVE?  [On Going]
Lovakarta

[COMPLETED] Lovakarta #1 Julukannya Hujan istimewa. Soalnya, Hujan yang satu ini selalu di damba-damba. 999 dari 1000 hati menyatakan ketertarikan padanya. Seharusnya, cerita ini mudah. Hujan tinggal pilih saja salah satu dari 999 hati yang ada. Tetapi, Hujan justru mengambil alur susah. Ia malah jatuh cinta pada 1 hati yang menyatakan penolakan mentah-mentah. Rintik yang menggelitik. Gerimis yang manis. Sampai Hujan deras yang melenyapkan panas. Hujan mencoba semua intensitas berusaha membasahi sang hati dengan kesejukannya. Hanya saja, tingkah sang hati yang selalu menghindar dari Hujan membuat jalan cerita jadi rumit pangkat tiga! Menariknya, beribu luka yang diterima Hujan istimewa sama sekali tidak dianggapnya sebagai alasan untuk menyerah... **** [COMPLETED] Lovakarta #2 Kata orang, cinta tak ubahnya sebuah impian. Butuh pengorbanan. Menuntut diperjuangkan. Tapi, pernahkah kau sampai menjadi Hujan sepertiku? Yang terus merintik, hanya untuk membuat dia tertarik. Selalu bersikap semanis gerimis, bahkan setelah berkali-kali ditepis. Juga tidak pernah lelah menderas, meski sama sekali tak dapat balas. Sungguh. Cinta ini bukan hanya menjadi ketidakadilan untukku. Lebih dari itu, aku tersakiti begitu jauh. Sampai tidak bisa membedakan apakah yang sedang kujalani adalah serangkai cerita, atau sekedar sebuah pengalaman terluka? Tapi, walau menjadi Hujan adalah patah hati terbesarku. Semua itu tidak akan membawa pengaruh. Tidak pula merubah sesuatu. Sebab, ujung-ujungnya, aku tetaplah aku. Si Hujan yang cuma tahu satu. Jatuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines