BACK TO #ALLAH

BACK TO #ALLAH

  • WpView
    Reads 108
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 6, 2019
"Alhamdulilah,,karena aku bukan menjadi seseorang yang ingkar itu. Bukan pula aku yang menjadi pejuang yang gagal itu. Sia-sia dan buang-buang waktu adalah milik dirimu. Kepergiaan ini aku tidak mengatakan ulah dirimu,hanya saja akan aku katakan aku sudah menemukan pengingkaran dalam ketulusanku ini dan aku pun sudah merasa lelah bertahan dalam kata "Kasian" iya,,aku tau kamu bertahan dengan diriku bukan lagi karena perasaan melainkan karena rasa kasian itu. Ini bukanlah ujian kebersamaan,namun entah bagaimana kunamai ini dengan pengingkaran. kesadaran ini memang terlambat aku rasakan,tapi aku telah menemukan kelegaan daripada kepergiaan meski sendu mengekori setiap langkahan. Entah bagaimana akhirnya,yang jelas..aku sedang menikmati kegagalan daripada dirimu ini hingga membuat aku harus KEMBALI".-Zida Khodijah
All Rights Reserved
#20
khodijah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • With You 나는 행복하다
  • don't leave daddy CH2 (END)
  • PERJODOHAN PAKSA ( END )
  • zeandra dan Marsha...
  • ALZEAN (END)
  • Mahligai Sunyi
  • DEAR CAKRAWALA

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines