Vizualizatsiya

Vizualizatsiya

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 24, 2021
Jalanan lampu merah. Percikan air kotor jalanan mengenai mantel tebal yang ia pakai saat ini, karna mobil terus berlalu lalang di jalanan itu.. sangat ramai. Lusuh dan kumuh adalah kata yang pantas untuknya. Dia mengumpat, melihat cara jalannya ia seperti terpincang pincang. Ya.. kaki kanan nya tertembak senapan. Di jarak berkilo kilo meter jauhnya ada sebuah perkelahian yang membuat dia menjadi seperti ini. Matanya memiliki sorot yang tajam, 'khas elang jawa' katanya. Dia duduk di tepian jalan memesan taxi online. Selang beberapa waktu taxi itu datang dan dia langsung memasuki mobil itu sambil bergumam menyalahkan sopir nya. Mengapa ia bisa tertembak? Mengapa ia sangat kesal? Siapa kah dia? Lalu, ada hubungan apa dia dengan perkelahian di beberapa kilo jauhnya? Tunggu up chapter selanjutnya yaa..
Creative Commons (CC) Attribution
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Liberosis
  • INTUISI || ft. Tokuno Yushi
  • Cegil Komplek [00L]
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • Please....Beside Me  (Sudah Tersedia Ebook Ya)
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • Angel
  • UNDER THE NIGHT'S EMBRACE || ON GOING ||
Liberosis

"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines