We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Khadijah

Khadijah

  • WpView
    Reads 95
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 11, 2018
WpInfo
Fiction
Social Themes
Aku bukan Siti Khadijah, ibunya para mu'minin. Wanita pertama yang memeluk Islam. Istri pertama Baginda Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam. Salah satu dari keempat wanita yang sudah di pastikan masuk kedalam syurga. Aku hanya seoarang gadis biasa. Gadis yang kebetulan menyandang nama 'Khadijah'. Aku tak sebaik beliau, ketegaran beliau terlampau jauh di atasku, ketabahan beliau hanya bayang dan angan bagiku. Itu semua tak mungkin bagiku. Gadis biasa yang mempunyai hati sebening air dan serapuh cermin. Itulah aku, Khadijah.
All Rights Reserved
#615
allah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rohis Love Location #WATTYS2019
  • [SHRS1] HALWA | V2 | SELESAI✓
  • Segaris Harapan
  • Mencintaimu Dalam Diam
  • Ikhtiar Menjemput Cinta [REVISI + END]
  • Quwwatul Hub
  • Sebuah Patahan
  • Assalamualaikum Imamku
  • Di Balik Niqab [TERBIT]
  • MengenggamMu Dalam Ketaatan [TAHAP REVISI]

Pria itu tampak tersenyum tipis. "Aku tidak tahu, tapi aku sungguh tidak menyukai itu. Aku dekat denganmu hanya sebatas karena rekan kerja saja, sama seperti aku dengan Aara. Bahkan aku rasa aku lebih dekat dengan Aara. Tapi apapun alasan mereka mengatakan aku mempunyai hubungan denganmu, aku sangat berharap kalau kamu mempunyai pikiran sesuai apa yang aku harapkan. " Dia menarik napasnya panjang lalu membuangnya. "Aku harap kamu juga seperti aku. Aku menganggapmu sebagai rekan kerjaku, dan kamu pun begitu, menganggapku hanya sebagai rekan kerjamu. Jangan merasakan apapun padaku melebihi batas itu. Aku harap, kita tidak terjebak dalam rasa yang tidak seharusnya timbul, Nafsiyah." Karena cinta tak selamanya berwarna merah jambu. Adakalanya kita harus merasakan pahit dan kelamnya warna kelabu. Tapi nikmati saja, luka yang seolah tak berujung ini bisa jadi akan aku rindukan suatu saat nanti. Karena pada saat itu, setidaknya aku masih bisa bersamamu. Ilyasa Khalifatul Kahfi

More details
WpActionLinkContent Guidelines