My Ribs Is You (First Love)

My Ribs Is You (First Love)

  • WpView
    Reads 191
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 3, 2018
Aleyza Sophie Fernanda : Hujan akan datang menyampaikan cerita lewat rintiknya dan saat itu pula akan aku sisipkan perasaan ku pada mu agar kamu bisa merasakan kehadiranku,walau aku tau pesan itu tak akan sampai pada dirimu karena sesungguhnya kaulah yang membuat luka disetiap air hujan yang jatuh kala aku menulis pesan itu. Zaidan Alvarisi Nugraha : Walaupun hatimu telah kau berikan padaku,aku tetap tidak bisa menerima itu karena sulit untukku memahami semua,dan pada dasarnya aku sangat takut bahwa akulah alasan datangnya air matamu itu. (Hargai karya seseorang)
All Rights Reserved
#55
cintadiam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Lepas, lalu tumbuh ||On Going||
  • Painful By Accident (Completed)
  • Diary Zofanya
  • SUDDEN SHOWER | Dia yang sempurna
  • Hujan Di Langit November
  • ALDAF
  • NAUSY
  • Mengapa memintaku untuk bertahan
  • FIZYA

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines