Kenangan Yang Telah Usang

Kenangan Yang Telah Usang

  • WpView
    GELESEN 3,685
  • WpVote
    Stimmen 374
  • WpPart
    Teile 79
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Nov. 18, 2020
[Judul awal : About My Life] Tentang kenangan yang telah usang tapi masih membekas dalam ingatan. Kadang ia rindu, kadang ia sendu. Semua ku tuangkan dalam sebuah tulisan yang ku tulis berdasarkan perasaan © Copyright 2018
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Hujan Membaca Isyarat (Kumpulan Cerita Pendek Karya @elynna_arsr)
  • The Rain
  • Haters and Lovers of Rain [END]
  • Fau In Love [COMPELETE]
  • Sedna
  • 雨 (𝐡𝐮𝐣𝐚𝐧)
  • Dalam Rintik yang Sama
  • Puisi 'tuk kau, Yang merindu
  • Gadis Hujan

Dalam setiap tetes hujan, ada kisah yang gugur tanpa suara seperti rindu yang tak pernah sampai, atau luka yang tak ingin dikenang. Hujan Membaca Isyarat adalah ruang di mana kata-kata menjadi sisa embun yang jatuh perlahan ke hati pembaca. Judul ini tak sekadar metafora, melainkan kiasan dari bagaimana alam diam-diam memahami kegelisahan manusia, lebih peka dari siapa pun yang pernah berjanji tak akan pergi. Hujan bukan hanya peristiwa cuaca, melainkan simbol yang menghidupkan kembali percakapan yang tak selesai, janji-janji yang menguap, dan isyarat yang tak pernah dimengerti saat pertama kali datang. Dalam setiap cerita, terdapat lapisan emosi yang lembap, getir, namun indah seperti jalanan basah yang menyimpan jejak langkah seseorang yang tak kembali. Alasan mengapa Hujan Membaca Isyarat menjadi judul utama bukan sekadar karena hujan selalu romantis atau sendu, tapi karena ia setia datang tanpa harus diminta, lalu menyentuh tanpa pernah memeluk seperti kenangan dalam cerita-cerita ini. Isyarat adalah bahasa rahasia, tersembunyi di balik tatapan, jeda, dan diam. Maka saat hujan "membaca", ia bukan sekadar membasahi tanah, tetapi mengurai hal-hal yang tak sempat diucap. Dalam rintiknya yang tenang, ia seperti menggambar ulang percakapan yang nyaris hilang: antara ayah dan anak, kekasih yang lupa arah, sahabat yang menjauh, hingga diri sendiri yang tak pernah selesai dicintai. Di sinilah hujan menjadi peramal kesedihan, pembisik rahasia, dan saksi atas segala yang tak pernah tuntas. Sebab tak semua kisah harus lantang. Kadang, cukup satu isyarat dari langit dan kita tahu, ada hati yang masih bergetar dalam diam.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien