Hilya Mafaza

Hilya Mafaza

  • WpView
    Reads 652
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 24, 2019
"Kalo kata Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib itu, jika seorang wanita menangis karena disakiti oleh pria, maka setiap langkah pria tersebut dikutuk oleh para malaikat. Jadi hati-hati aja, karma itu gak ada yang ada balasan, Gue gak tau apa yang bakal para malaikat doain kalo sampe Lo buat Istri Lo sendiri nangis." Tapi apakah itu berlaku bagi Arham Zahian Admawidjaya? Sosok lelaki yang dikenal dengan sifat dinginnya kesemua orang, tegas dalam segala hal, dan sifat otoriternya yang terkenal kejam, tidak terbantahkan? Semua hal sudah Arham lakukan, dari bersikap kasar perkataan maupun perbuatan, tapi Hilya masih setia berada disisinya, tapi jika perasaan cinta tak kunjung tumbuh pada diri Arham, apakah Hilya masih tetap berdiri di sampingnya? "Aku bukan Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra yang mencintaimu dalam diam bahkan sampai iblis pun tidak mengetahuinya, aku juga tak sesabar Siti Hajar istri Nabi Ibrahim as, tapi aku akan menjadi diriku sendiri, yang selalu mencintai suaminya dengan sabar atas izin Allah."
All Rights Reserved
#19
hilya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Teruntuk Kamu Pemilik Suara [SELESAI]
  • Kamu adalah Pilihan Allah | KAPA✔
  • Quwwatul Hub
  • ADA PELANGI DI UJUNG WAKTU
  • Muara Hati
  • HANATHAR [END]
  • Aleshaka (sudah terbit)
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • Imamku (SELESAI)

[PUBLISH ULANG - FREE FOR READ] Hilya Mafaza Azizi, gadis manis yang mengagumi seseorang tanpa tahu wujud dan rupa orang tersebut. Semuanya bermula saat Hilya mendengar suara merdu nan lembut tiap waktu salat tiba. Ya, Hilya menyukai si Muazin itu hanya dengan mendengar suaranya. BLURB : "STOP! STOP!," Anna yang sedaritadi diam menyaksikan bangkit dari duduknya. Menatap Rakha dingin, "kamu? Rakha, kan? Yang kemarin nyatain perasaan ke Hilya?. Mendingan pergi, deh!." Anna tersenyum samar bersamaan dengan wajahnya yang kembali dingin. __ "Saya terima nikah dan kawinnya Aqlima Razanna...." Tak lama setelah itu kata 'sah' pun terucap, disambut dengan lafadz hamdallah dari para tamu yang hadir. Tak kuasa membendung air mata, Hilya menunduk dalam guna menghindari tatapan orang disekitar yang bisa saja melirik ke arahnya. Sementara Anna, gadis berpashmina putih itu menoleh ke arah belakang. Terlihat dari posisi duduknya saat ini, Hilya tengah menunduk. Tak bisa dipastikan ekspresi sahabatnya itu. Walau, Hilya sendiri pernah mengatakan padanya bahwa dia tidak ada perasaan apapun terhadap lelaki yang kini telah menjadi teman hidupnya. Tetap saja, rasa was-was melingkupi sebagian hati kecilnya. Anna takut, apa yang Hilya katakan waktu itu adalah upaya gadis itu agar pernikahannya dengan Rakha berjalan dengan lancar. Sedangkan perasaan gadis itu terhadap lelaki disamping masih berbekas. Ia takut hal itu ada pada Hilya. Ia takut menyakiti Hilya. Disini, puncak permasalahan berasal dari dirinya. __ Bahagia atau sedihkah, ketika aku telah mengetahui siapa si Pemilik Suara itu?. -Hilya Mafaza Azizi- __ Kini aku semakin percaya dengan pribahasa ini 'Jodoh itu seperti setumpukan tempe, tidak ada yang tahu', begitu. -Penulis- __ Kisah yang sungguh rumit? Kalian berhasil menemukan nya. Inilah dia!. __ Published on 09 April 2019 Finished on 30 Mei 2019

More details
WpActionLinkContent Guidelines