Eight-Seventeen

Eight-Seventeen

  • WpView
    Reads 770
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 29
WpMetadataReadComplete Wed, Apr 24, 20192h 53m
WpInfo
Fiction
Romance
"Kakak kelas? Biasanya sih jadi senior patut dihormati atau baik sama kita." kata Ryna saat ditanya mengenai kakak kelas baginya. "Tapi kalo di tanya tentang dia. Pastinya bukan kakak kelas yang harus di jadiin panutan ya karena sifatnya dari awal ketemu juga keliatan suka cari musuh. Jadi ya gimana ya? Lebih pantas di sebut Enemy sih!" Lanjutnya dengan sedikit kesal. "Sekarang kok kalian jadi deket gitu sih?" ditanya oleh salah satu temannya. "Hmm... Gimana ya? Mungkin takdir." Jawabnya dengan santai. Kisah tentang seorang senior kelas 12 dengan juniornya yang diawali dengan kebencian tapi anehnya salah satu dari mereka jadi suka ya(?) Gimana jadinya kalo begitu ceritanya? Apa mereka akan jadi pasangan? Atau hanya suka sepihak? Ikuti ceritanya biar gak penasaran lagi.
All Rights Reserved
#296
highschoollovestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • My Graffiti, Sire
  • Saat Takdir Memilih [C] [EDITING]
  • Dibalik Senyum Gadis Bali - Kumpulan Cerpen
  • Absolutely Mine! (Terbit)
  • Closer You and I
  • Echoes of an Unsaid Feeling
  • Full Moon
  • C | ASYTAR'S PRIORITY: HAZRIEL ASYTAR

Tubuhku selalu dalam keadaan kedinginan jika berada di Fenchurch, sebuah jalan yang cukup historis di sisi timur kota London. Sprektrum warna langit dan terkadang pelangi yang membentang di luasnya cakrawala menjadi penemanku. Dapat kupastikan, tujuanku ke sana hanya untuk mencari kedua raga tak bertanggung jawab, menyusuri setiap wajah, sampai akhirnya perjalananku tidak lagi sendirian. Seolah itu keadilan alam, aku bertumpu penuh padanya, ratu kecantikanku. Namun, perlahan perjalanan ini digerogoti waktu. Hingga mereka yang baru saja kuanggap putaran kewarasanku--yang membuat warna duniaku lebih jelas itu... terasa tak pernah sejauh ini. "Setiap orang layak bahagia, termasuk kau," Dia bilang begitu. "Jika tidak?" Aku menyahut dengan rahang yang mengeras. "Bahagiamu di ketenangan putih yang diciptakan Tuhan." Dan saat itu, aku tak percaya. Tidak pada Tuhan, tidak pada penanggung jawab rasa sakit. Akankah kalian membantuku? Aku Gray Robbin. --DONT TOLERATE PLAGIARISM!-- ©belliotte ©Mei2025

More details
WpActionLinkContent Guidelines