Entahlah
  • WpView
    Reads 302
  • WpVote
    Votes 44
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Sat, Sep 29, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Salah satu pertanyaan yang selalu saja datang di antara sejuta tanya tentang aku, kerinduan, dan dirimu. Karena aku dan kerinduan tak pernah bisa terpisahkan darimu, walaupun kini kamu memang telah berpisah dengan kehidupanku. Lantas aku harus bagaimana menjawab pertanyaan itu jika selalu muncul terlebih dahulu saat aku ingat akan dirimu, sedangkan aku dan kamu masih sangat mungkin bisa bertemu. Entahlah, hanya kata-kata ini yang muncul dan bisa menjawab semua pertanyaan yang hampir selalu datang bersamaan sebelum pertanyaan terakhir itu "kapan aku bisa bertemu denganmu untuk melepas kerinduan yang selalu buatku sesak seperti saat mendaki puncak dengan cara berlari?" Mungkin memang terasa bodoh dengan hanya menjawab begitu banyaknya pertanyaan hanya dengan jawaban "entahlah". Namun, kenyataannya hanya jawaban itu yang sangat realistis terucap saat cinta dan kerinduan menjadi satu dan selalu mendorong diri untuk menginginkan secara utuh yang dicinta dan dirindukan agar bisa selalu bersama dalam suasana yang tak pernah akan terduga
All Rights Reserved
#505
gril
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Expression [Completed]
  • flashback~
  • LDR
  • WAVER [Completed]
  • Secret Admirer
  • RETURN
  • Have a Nice Dream [Completed]
  • Another Goodbye (The Other Side 2)
  • Love and confidential

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines