I WISH (HIATUS)

I WISH (HIATUS)

  • WpView
    Membaca 331
  • WpVote
    Vote 41
  • WpPart
    Bab 5
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Jum, Okt 25, 2019
Kenapa aku menggenggam tangan dia saat itu? Walaupun aku tau, ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Di balik senyum manisnya, ada rasa kesepian, dingin, dan sifat anak anak. Sepertinya, hal itu membuat ku penasaran pada dia. Karena dia memiliki sisi yang sama sekali berbeda dengan ku. Sisi yang hanya aku, yang bisa melihatnya dan dia hanya menunjukkanya pada ku. Jika saja semua ini tidak lah sia-sia. Mungkin aku akan bertahan sedikit lebih lama dan mencoba untuk lebih mengerti.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Home (Completed) (Repost)
  • Moment | wangxian
  • cinta yang tulus?
  • liked by ceo handsome  (Hiatus)
  • Untold Pain
  • ✅Love You Mommy (Jichan/jaemhyuck)🐹🐻,🐰🐻
  • Perjodohan (TayNew)
  • Adore You Prince Cap Kapak

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan