ABHIPRAYA

ABHIPRAYA

  • WpView
    Reads 1,184
  • WpVote
    Votes 36
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Wed, Jun 27, 2018
Mendung belum tentu hujan , panas belum tentu tidak akan turun hujan. Begitu juga jelek Deskripsi gue belum tentu jelek cerita nya ( Pd gila gue ) ..... Helaan nafas mengerang, helaan kata mengarang menyatu menjadi karang, membatu diterpa gelombang tetap tegar menghadapi geger gelegar kota besar. Kembali ke siklus kehidupan, menghadang gempitanya suasana. Siapa yang mau berbicara, siapa yang mampu berdiri hingga akhir, siapa yang bisa melewati kerumitan masalah yang bisa menyebabkan sang empu kac au dan kosong didalamnya. Tak terlihat namun terasa, tak menghancurkan tapi merapuhkan dan dia adalah masa lalu...
All Rights Reserved
#7
abhipraya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • if tomorrow is dead,what would you do?
  • If we can together
  • Pelangi untuk Hujan(on going)
  • MIRACLE
  • Narasi patah hati
  • JAM 3 SORE
  • TRUST ME ( And I Trust You ) (END)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines