Hari itu aku merasakan kebingungan yang luar biasa. Ingin bergerak tapi tidak tahu bagaimana caranya. Sementara orang disekitar bergerak maju. Aku hanya diam tak berdaya. Aku sadar kalau hidup itu terus berjalan. Namun, kondisi saat itu begitu menghimpit sehingga hanya air mata saja yang bisa berbicara. Aku mulai merasa tinggal di tempat yang semakin asing. Aku seperti terlempar dari kehidupan. Saat itulah aku merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang mengalami depresi stres tingkat tinggi. Ingin rasanya aku berteriak. Ingin rasanya aku berlari. Ingin rasanya aku menahan waktu yang terus melaju. Tapi aku tak sanggup. Aku hanya bisa diam menyaksikan semua berlalu dengan cepat. Aku hidup diantara pilihan-pilihan sulit. Aku berdiri di depan persimpangan jalan hidupku. Ingin rasanya diri ini tidak memilih, tapi hidup adalah pilihan. Dan aku harus membuat pilihan sulit. Memilih kehilangan orang yang aku perjuangkan selama ini demi ketenangan dan kebahagiaannya. Lantas apakah aku bisa bahagia tanpamu? Jawablah tanyaku!! Orang lain sibuk pergi untuk mengejar mimpi indah mereka. Sementara aku hanya diam membisu membawa mimpi yang terkoyak. Mimpi yang pernah menjadi harapan indah. Mimpi seorang anak manusia yang berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih hidup atas dasar cinta.. Tanpa sadar, aku terlalu lama tersakiti oleh keadaan, Dunia telah berubah. Waktu telah lama berlalu. Sementara diri ini masih berjalan di jalan buntu. Sepotong lilin yang hanya berukuran beberapa inch menyala di telapak tangan, biarpun lelehannya membakar kulit namun aku abaikan, karena hanya inilah harapan hidupku kedepan, harapan yang sebetulnya semu dan tergolong di ambang kehancuran, mempunyai bukti dokumenpun belum tentu bisa mengembalikan dirimu terhadapku. Pertanyaanya.... semua perjuangan ini untuk siapa? Jika aku telah mendapatkannya nanti, akan ku tunjukan ke siapa? Untuk apa? Sementara dirimu sudah tak sejalan denganku. Syakitnya...All Rights Reserved
1 part