Pudar

Pudar

  • WpView
    Reads 151
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 2, 2018
Aku mencintaimu, tak peduli denganmu yang akhirnya menyakitiku. Aku mencintaimu dengan segenap luka yang ku biarkan menganga, yang belum sempat kau sembuhkan namun sudah kau tambah dengan luka baru. Aku mencintaimu, walaupun aku tahu bahwa aku tak bisa membencimu. Biarkan aku hidup dengan luka ini. Luka yang tak bisa kusembuhkan sendiri. Luka yang tak mau orang lain hampiri. Aku ingin bahagia denganmu. Namun apadaya itu hanya inginku. Aku ingin terus bersamamu. Namun kau menolak apa-apa yang kumau. Dengan menggenggam luka dan memberikan segenap cinta, tertatih-tatih aku menulis kisah ini untukmu. Aku tahu kau tak mau peduli itu. Tak apa, aku tak akan memaksamu. Karna setiap orang punya caranya sendiri untuk memeluk setiap kenangan menyakitkan yang pernah ia lewati. Walaupun harus bersakit-sakit membangun dinding penghalang rindu, membiarkan kau yang tak lagi bersamaku. Happy reading everyone! Xhs-
All Rights Reserved
#656
pilu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lewat Mediasi (TAMAT)
  • As Time Allows
  • [Bukan] Cinta Pertama
  • Penghujung Waktu
  • you again ✔
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Some Kind of Love [DISCONTINUED]
  • Full Of Scratches
  • Favorite Wound

Teruntuk: Raina Myeisha Agatha Semoga kamu selalu diberikan kesehatan. Agatha .. Sepertinya, suratku yang aku tulis 3 tahun yang lalu, tidak kamu baca. Aku kira, mungkin kamu belum menemukan caranya, lalu membuangnya. Ini surat yang kedua yang aku tulis untukmu. Agatha, aku masih menjadi seorang pengecut sekarang. Aku masih belum berani untuk mengatakannya padamu. Aku telah berusaha dengan sangat keras. Berkatmu, aku dapat berbicara dengan lancar pada semua orang, terutama pada perempuan. Awalnya, aku benar-benar takut dan merasa malu, jika berbicara dengan mereka, namun karenamu, aku belajar dengan sangat keras. Tapi, entah mengapa saat melihatmu, aku terus saja belum berani seperti laki-laki jantan lain. Aku sudah tak kuat menahan semuanya. Akhirnya, aku berniat untuk melawan ketakutan dan rasa malu. Aku mencoba untuk berani, agar dapat berbicara langsung padamu tanpa keraguan, ketakutanku perlahan menghilang. ....................

More details
WpActionLinkContent Guidelines