Rindu Senja

Rindu Senja

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Tue, Jul 2, 2019
Kerinduan ini sungguh tak sanggup aku definisikan. Semua kegundahan merusak akal sehatku. Tak sanggup berpikir mana sejatinya cinta itu. Namun kepercayaan sanggup menguatkan cinta. Kamu pergi membawa separuh rasaku. Membuatku terjatuh pada jurang penyesalan. Aku yang begitu percaya diri bahwa kamu akan tetap bertahan. Nyatanya aku salah. Kamu pergi. Maafkan aku Senja. -Fajar Aldebaran Aku juga rindu. Tapi aku takut untuk bertemu lagi denganmu. Maafkan aku yang hanya mampu memandangmu dari jauh. Semoga kamu temukan bahagiamu. -Senja Kamila
All Rights Reserved
#408
fajar
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • My Destiny
  • Tentang Waktu (End)
  • magenta [✔]
  • Jodoh Pilihan
  • Cerita Tanpa Akhir [Completed] (Proses Penerbitan)
  • LUKA!
  • Fajar dan Senja [SELESAI]
  • Senja merindu fajar
  • Senja dan Fajar

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines