Saat remaja, Barsha pernah melakukan hal bodoh yaitu melamar seorang pria asing. Sialnya pria itu menganggap serius proposal yang diucapkannya saat mabuk. Sejak saat itu pula, mereka mulai terlibat hubungan tanpa status.
Bertahun-tahun menjalaninya, Barsha mulai mempertanyakan, apakah hubungan ini worth it dipertahankan atau tidak? Sampai akhirnya, Barsha mengetahui fakta pria itu sudah memiliki tunangan. Tidak mau terperangkap dalam hubungan yang tidak jelas, apalagi sampai dicap pelakor, Barsha pun mencampakkannya, dan berjanji akan membuatnya menyesal.
Tiga tahun kemudian, Barsha berhasil menemukan pria lain yang bisa memberikannya status yang jelas. Tapi, pria itu tidak terima Barsha menikah dengan pria lain. Jadi, dia menemui Barsha. Menyabotase pernikahannya, menculik, bahkan tanpa malu meminta Barsha menepati janji untuk menikahinya saat berusia 28 tahun.
Apakah Barsha masih mau menikah dengan pria itu disaat ia yang berusia 28 tahun sudah begitu membencinya?
***
⚠️18+
Laki-laki itu bergeming saat merasakan pelukan Anyelir. "Anyelir, kamu tahu kan, anak-anak nomor satu bagi aku? Jadi, jangan buat aku menomor duakan anak-anak aku, karena itu tidak akan pernah terjadi," ujar laki-laki itu dengan nada dingin.
Siapa bilang menjadi perempuan kedua bahagia? Nyatanya, Anyelir tidak pernah merasa bahagia. Anyelir tidak pernah merasa dicintai lebih dari sang istri sah. Ah cinta? Laki-laki itu hanya mencintai dan mendamba tubuhnya saja.
Anyelir ingin marah, tapi ia bisa apa? Anyelir hanyalah seorang selir yang selalu menjadi pilihan terakhir.
Bahkan jika ia marah, kemarahannya pun tidak bisa ia luapkan pada siapa-siapa. Karena sekali lagi Anyelir hanyalah selir, tahu kan pandangan dunia, kepada dirinya seperti apa?