Come Go Then Back

Come Go Then Back

  • WpView
    GELESEN 211
  • WpVote
    Stimmen 20
  • WpPart
    Teile 9
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Di., Juli 30, 2019
Jangan terlalu percaya jika tidak ingin terluka. Jangan mudah memberi hati kepada seorang yang belum pasti akan menetap. Karna seseorang bisa saja datang untuk sekedar singgah atau memberi harapan yang berujung dengan kekecewaan. Kemudian mengenai hati yang pernah dimiliki, dilukai, dan ditinggal pergi. Tidak, tidak dimiliki tapi hanya disinggahi. Semuanya berjalan begitu cepat hingga hanya tinggal deretan luka yang membuat keterpurukan yang begitu dalam. Jika seseorang telah terluka maka mustahil dia dapat kembali percaya. Bisa saja dia memutuskan untuk mengubur luka itu dalam-dalam. Kemudian mencoba bangkit dari keterpurukan nya. Walau sulit tapi harus dihadapi.
Alle Rechte vorbehalten
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Bukan Kita D.A.N
  • Juan [REVISI]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • DENNIES
  • Satria Dirgantara [Complete]
  • TEMAN
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (END)
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • A Fractured Soul

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien