Asmara Tiga Hati

Asmara Tiga Hati

  • WpView
    Reads 584
  • WpVote
    Votes 99
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 4, 2021
WpInfo
Non-Fiction
Sebelas tahun berlalu namun tidak mengubah hati Nandini. Cintanya masih sama besar seperti saat pertama kali bertemu pujaan hati. Usianya bukan remaja lagi. Suatu hal menuntutnya untuk segera naik kepelaminan. Tetapi bagaimana dengan perasaan yang tak kunjung hilang untuk seseorang yang bahkan tak ia ketahui kepada siapa hatinya berlabuh.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Persimpangan Hati
  • " To Love ,To Lose "
  • Antara Aksara dan Kata
  • Fragmen
  • PARTY IN THE U.S.A [COMPLETED]
  • Nadine
  • 159 Days
  • WISHES.
  • Jejak Luka, Jejak Cinta (TAMAT)
  • Kesederhanaanmu Bahagiaku

Di Persimpangan Hati Nadira adalah gadis berusia 17 tahun yang tampak tenang di luar, tetapi menyimpan badai di dalam hatinya. Wajahnya lembut, dengan sorot mata yang kerap terlihat sendu dan tampak menerawang, seolah selalu mencari jawaban yang tak pernah terucap. Nadira adalah tipe yang diam-diam memikul beban, lebih memilih memendam luka dan kesedihannya dalam hati daripada menceritakannya kepada orang lain. Di persimpangan hatinya, Nadira berdiri dengan keraguan yang tak pernah reda. Selalu berusaha tegar, ia sering tersenyum meski hatinya terasa kosong. Hatinya kerap dihantui oleh rasa tidak percaya diri, terutama setelah bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang lebih sukses dan lebih dihargai oleh keluarganya. Walau sering mencoba meyakinkan diri bahwa ia baik-baik saja, kenyataan terus-menerus mematahkan keyakinannya itu. Dalam kesunyian malam, Nadira sering terjaga, mengobati luka-lukanya yang tak terlihat, sambil mempertanyakan arah yang ingin ia tempuh. Hatinya selalu terbelah antara ingin melangkah maju dan bertahan dengan perasaan yang membuatnya terpaku. Ia rindu untuk bebas, untuk berdiri di atas pilihannya sendiri tanpa rasa takut akan pandangan orang lain. Namun, di persimpangan itu, Nadira tetap bimbang-antara hati yang ingin pulih dan kenyataan yang terus mengajaknya untuk bertahan. Ditulis sejak 29 Maret 2018

More details
WpActionLinkContent Guidelines