3R ; Reynaldi, Revan & Rasyid

3R ; Reynaldi, Revan & Rasyid

  • WpView
    Reads 228
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 6, 2018
Ukuran foto? Bukaaan, ini cerita tentang keluarga gue. Btw siapkan tisu sebelum membaca, takut ketawa sampe nangis maksud gue.. Nama gue Rasyid Alterio Pahlevi disingkat RAP (catatan : bukan saRAP). Biasa dipanggil Acid, udah kek bahan kimia. Umur gue 6 tahun lebih 10 tahun. Jenis kelamin gue laki-laki, ga perlu digambar kan? Gue punya 2 abang laki-laki, abang gue yang pertama bernama Revan Al-Ghiffari Pratama, orangnya pendek HAHA, mukanya imut banget kek artis-artis koriyah. Fyi aja ya kalo dia cewek, bakal gue gebet tapi sayang dia suka kentut sembarangan. Nah abang gue yang kedua namanya Reynaldi Altezza, dia kebalikan dari bang Evan. Orangnya kek tiang listrik, tinggi cuy. Kalo makan di kantin ga pernah bayar (catatan : Iya lah orang gue yang bayar). Tampang sangar ala-ala bad boy novel gitu, tapi kalo naik mobil suka mabok. Emak gue? Namanya gue sensor aja lah biar ga diledekin. Emak hitz zaman now, hobinya ngezumba bareng ibu-ibu kompleks, shopping barang diskonan dan jalan-jalan sama bang Aldi. Oke cukup sekian kalo emang penasaran silahkan dibaca, jangan lupa klik "Add's to library" dan vote agar Author mau lanjutkan kisah gue ini, thx^^
All Rights Reserved
#5
reynaldi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • REZVAN CRUEL BOY
  • Lelaki Bayaran [END]
  •  Cuman Kebetulan
  • My Protect Family
  • My Youth My Son [NOT CONTINUED]
  • Pretty Careless
  • ARANAYA (END)
  • Transmigrasi Queen Of The World [Tamat]

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines