Story cover for Annoying Boy by NoviQueen9
Annoying Boy
  • WpView
    LECTURAS 714
  • WpVote
    Votos 40
  • WpPart
    Partes 2
  • WpView
    LECTURAS 714
  • WpVote
    Votos 40
  • WpPart
    Partes 2
Continúa, Has publicado jul 06, 2018
Kau bagai Kehangatan dalam kedinginan, Penerang dalam kegelapan, pelengkap hari hari ku. Hanya kamu cuma kamu yg bisa membuat ku mengerti apa itu Cinta.

Sikapmu yg Dingin, menambah kesan tersendiri bagi ku. Kau yg slalu melontar kata kata pedas padaku aku tau di balik kata kata pedas mu itu terselip niat baik dari mu. 

Kau hanya tak mampu mengekspresikan dan melontarkan nya dengan benar.

Aku mencintai dirimu mungkin kau tau itu.

Tertanda:
Natalia Jovania
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Annoying Boy a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
CINDY : Sebelum Aku Pergi de rasainiindah
11 partes Continúa
"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Quizás también te guste
Slide 1 of 9
CINDY : Sebelum Aku Pergi cover
Rembulan ; Na Jaemin [END] cover
[End] Behind The Wedding cover
Setulus Kasihmu (End)  cover
BACK 2U [SUDAH TERBIT] cover
𝙰𝙼𝙾𝚄𝙽𝚃 𝙾𝙵 𝙻𝙾𝚅𝙴 cover
Senandung Azalea (Completed) cover
Menikahi Majikan [End] cover
Without You cover

CINDY : Sebelum Aku Pergi

11 partes Continúa

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.