(Sebagian besar part di-privasi-kan)
"Jika ada ramai paling hening, mungkin ketika duduk berdua dengan diri sendiri.
Mendengar tanpa suara, merasa walau tak menyentuh,
ada tapi tiada, bersama tapi kesepian"
"Terkadang aku ingin bertahan menjadi rahasia, dari pada terungkap tetapi tidak pernah menyehatkan.
Namun nyatanya, 'kita' tidak pernah benar-benar saling menyakiti, sampai hal itu pun datang dan terjadi kepada kita. Hingga pada akhirnya, aku terjadi padamu, terjadi dalam dirimu, terjadi dalam hidupmu, lalu kita menjadi sebuah rahasia itu sendiri"
"Waktu paling tidak baik adalah saat aku harus berjudi dengan kesempatan, melukis rencana sebelum digariskan, mengejar bahagia yang menyakitkan, lalu terduduk kembali pada kursi kemunafikan.
Tempat paling tidak baik adalah bersamamu, menghadap karya Tuhan paling sempurna, berkopi dengan kepahitan, lalu menelannya mentah-mentah dengan airmata"
Perpisahan yang harus terjadi diantara dua sejoli yang baru saja menikah, pernikahan seumur jagung, dan baru tumbuh bibit-bibit cinta. Menjadi hancur berkeping-keping setelah terjadinya kesalahpahaman, yang membawa malapetaka untuk rumah tangga Gilang dan Neta.
Perceraian adalah jalan satu-satunya bagi Neta yang memiliki komitmen kuat dan tidak mau memikirkannya lagi. Sedangkan Perceraian itu juga membawa Gilang ke lubang kehancuran yang sama seperti Neta rasakan.
Lalu apakah mereka akan benar-benar memulai kehidupan yang baru, tanpa adanya bayangan masa lalu.? Atau malah sebaliknya, mereka akan kembali terjerat, terjebak akan perasaan yang masih tertahan setelah pertemuan tidak terduga.
Cinta, kasih sayang, kebahagiaan,pengorbanan, perpisahan, sakit hati, kehancuran, penyesalan. Semua itu adalah kata-kata yang melambangkan diri seseorang dan hidup seseorang. Tapi apakah bisa bisa perasaan itu muncul lagi, ketika bayangan masa lalu masih menghantui.
Hubungan merupakan dasar dari sebuah pilihan untuk menjalin suatu ikatan, tapi apakah mereka bisa berdiri dan berjalan beriringan dibawah luka dan sakit yang masih terbayangkan.