Gisella

Gisella

  • WpView
    Reads 181
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 8, 2019
Disebuah kamar yang yang cukup besar dengan penerangan lampu yang temaram,gadis itu menangis, menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. "Gisel kangen mama,semuanya sudah berubah.bahkan papa pun juga berubah,kakak pergi, semuanya terasa hampa tanpa mama." "Ma, Gisel sakit,gisel lelah,gisel pengen nyusul mama." "Hiks,hiks,hiks..." Malam itu hanya terdengar suara isak tangis yang memilukan, isak tangis seorang gadis yang merindukan kehangatan rumahnya kembali.
All Rights Reserved
#173
sendiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KARAFERNELIA
  • Behind The Smile
  • Queen And Her Devil Boy {Completed)
  • MONOLOG SEMESTA
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
  • Bukan Kita D.A.N
  • he is my lover
  • Hampa Merangkai Duka
  • Maaf (Sequel Off T.A.A.O) | SELESAI REVISI

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines