Dandelion

Dandelion

  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 26, 2018
Dia tak rapuh, hanya saja dia terlalu lengah. Dia tak cantik, bibir mungilnya terhimpit dua adonan bakpau yang begitu menggemaskan. Entah kenapa, dia terobsesi dengan kata takdirnya akan buruk. Bodoh bukan? Dia menilai dirinya sendiri. Dia tak takut akan prediksi takdir yang ia buat, hanya saja dia bosan akan jalannya takdir yang sesuai dengan pikirannya. "Aku mau hidup kembali," ucapnya ketika dua tangan mungilnya membenarkan letak tali sepatu yang lepas. "Berarti kamu ingin mati dong," anak laki-laki disampinya bersuara. Gadis kecil itu menoleh, dan mendengus setelahnya. "Mati itu kata Ayah sakit banget. Aku nggak mau mati... Tapi.." "Tapi," mata indah lelaki itu mengerjap lucu. "haishhh, ayo cepat!" perempuan kecil itu menarik lengan lelaki disampinya spontan. Langkah kaki keduanya berlari beriringan dengan gandengan tangan yang semakin erat perempuan itu genggam. Tampak perlahan lelaki itu perlahan membalas genggamannya semakin kuat. "Jangan mati... Jangan pergi... Jangan diam.... Luna!" entah mengapa hati lelaki itu menghangat kala seruan keras yang ia batin seakan benar-benar nyata.
All Rights Reserved
#6
squishy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bulan Bintang
  • The Downfalls ft. Shin Ryujin
  • VALERIE : NOT AYUNA [ rombak Ulang ]
  • KISAH TANPA ENDING ✓
  • Trasmigrasi Queenzee
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • Essentialy Love (SELESAI)
  • 𝒂𝒅𝒂 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒅𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒌𝒖 𝒔𝒎𝒑 #𝑺𝒀𝑨𝑸𝑬𝑬𝑳🌠  [SELESAI]
  • Penuh Luka (On Going)

Ia yang dijuluki Bintang, Skayara Bintang Adhiyaksa. Ia bukan langit yang dipuja, tapi serpih cahaya kecil yang berusaha tetap menyala di tengah gelap. Seorang penghuni pagi yang berjalan dalam sunyi, membelah dingin dengan sepeda motor renta yang kini lebih sering batuk daripada berjalan. Hidupnya adalah barisan luka yang diolesi senyum retak tapi tetap indah. Setiap hari ia menjamu waktu dengan aroma kopi dan kepulan harapan hidup. Tangannya menari di antara cangkir dan kerinduan yang diam-diam ia telan dalam hirupan pertama. Ia menyapa dunia dengan tutur lembut, walau isi hatinya dipenuhi tanda tanya: "Sampai kapan aku harus kuat?" Tak banyak yang melihat kehidupannya, tapi ia adalah puisi berjalan disusun dari kepingan lelah, dipoles oleh harap. Ia tak bersinar terang, tapi cukup gemerlap untuk diingat oleh langit yang pernah kehilangan bintangnya. Ia yang dinamai Bulan, Raespati Bulan Sadipta. Lelaki itu adalah senyap yang bersuara. Diamnya bukan karena tak peduli, tapi karena ia menyimpan terlalu banyak sakit yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Ia tinggal di antara deru mesin dan debu jalanan, di mana suara knalpot adalah musik, dan peluh Tangannya kasar seperti jalanan rusak, tapi setiap gerakannya adalah sajak membenahi yang rusak, menyambung yang patah, menghidupkan yang mati. Bengkelnya kecil, nyaris tersembunyi oleh waktu, tapi hatinya luas, menyimpan matahari yang enggan terbit. Ia tak mencari dunia. Ia hanya ingin bertahan. Hidupnya adalah malam panjang yang ditemani bulan sabit: separuh terang, separuh gelap, namun tetap bertahan menggantung di langit. Dan dalam diamnya, ia berharap seseorang akan datang bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk duduk bersamanya dalam sunyi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines