IS IT LOVE?

IS IT LOVE?

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 13, 2018
Dia menangis. Untuk kesekian kalinya. Dia mengerjap dan menghapus air matanya yang sudah membuyar di wajah manisnya. Dia tengah berada di suatu makam. Iya. Makam seseorang yang sangat berarti baginya. Dia tak pernah menyangka jika semua akan terjadi seperti ini. Tak pernah terfikir sekecil pun akan hal ini. Semua terjadi begitu cepat. Seolah Tuhan tidak mengizinkannya bahagia. Dia tahu maksud Tuhan. Orang-orang berkata Tuhan menyayanginya lebih dari apapun. Sehingga Tuhan mengambilnya lebih dahulu. Namun? Untuk seseorang yang memiliki iman setipisnya mana mungkin dia bisa berfikiran seperti itu?. Yang dia tahu adalah Tuhan tak pernah mengizinkannya untuk bahagia. Sekecil apapun kebahagiaan itu. Pernah. Namun hanya sesaat. Sayangnya, dia tak butuh kebahagiaan yang seperti itu. Yang dia inginkan hanya kebahagiaan abadi tanpa ada orang yang mampu mengusiknya Dia tahu fikirannya salah. Tetapi, apakah harus dia menyalahkan fikirannya? Dia masih menangis. Sesegukkan sambil memegang dada kirinya. Memang sakit. Bahkan sangat amat sakit. Tetapi, semua telah terjadi. Ibarat pepatah. Nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana dia membuat bubur tersebut menjadi special. Dia bangun. Mengerjap. Menatap makam tersebut dengan raut amburadul. Pikirannya memang kacau. Padahal ini sudah kesekian kalinya dia mengunjungi makam ini. Namun, selalu saja ada rasa sakit ketika berada di sini. Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Walau ini bukanlah salahnya. Dia memtuskan untuk melangkah pulang. Sebelum kakinya melangkah ia menyempatkan berdoa sebentar, berharap orang yang berada di dalam makam tersebut mendapatkan kedamaian luar biasa.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sejenak Luka
  • Hiraeth to Everlasting Sun
  • FRIENDzone (Completed)
  • Love In Silent(END)
  • Juan [REVISI]
  • Yang Dulu Melukai,Kini Menyayangi [END]
  • Nostalgia Cinta (✓)
  • Stay With You [END]
  • Jangan Bermain Cinta dengan Mapala

"Jean, Nara pinjam uang boleh? Uang jajan Nara dipotong ayah karena nilai ulangan fisika Nara turun jadi 85." "Jean, Nara boleh nebeng pulang di motor Jean, nggak? Bentar lagi ujan, Nara gak punya uang naik angkot." "Jean, boleh pinjam baju olahraga? Punya Nara disobekin sama temen-temen Nara." "Jean, kata temen Nara, Nara gak pantas jadi kakak Jean. Itu benar, ya?" "Kenapa Jean dan Arkan selalu jahat ke Nara?" *** Naraka tidak pernah mengeluh, kendati sakitnya sejak kecil tak pernah luruh. Naraka tidak iri pada saudaranya, kendati takdir begitu keji untuknya. Naraka menyayangi ayahnya, Arkan, dan Jean. Mirisnya, semuanya tidak pernah menginginkan entitas Naraka di hidup mereka. Karena Naraka cacat. Penuh cela. Naraka dibenci. Naraka disiksa. Naraka ditinggal. Naraka tidak memiliki alasan lagi untuk bertahan dengan luka. Temukan kisah perjalanan hidup Naraka bersama orang-orang tersayangnya di semesta. Membawa sejenak luka lalu pergi menghampirkan duka.

More details
WpActionLinkContent Guidelines