[2]ARAGA

[2]ARAGA

  • WpView
    Reads 217
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 14, 2018
Lara Aurora, gadis sederhana yang tidak menyukai keributan. Sampai akhirnya Raga datang di kehidupan Lara dengan beribu-ribu ulah. Mengubah dunianya, dengan warna-warni keajaiban. Musim kebahagiaan berlalu, ada masa dimana suatu rahasia Raga terbongkar. Raga benci. Benci dengan takdir. Benci dengan dirinya sendiri. Benci dengan semesta. Ia menyuruh Lara pergi. "Lo harus pergi!" "Tapi, Ga--" "Gue gak butuh lo, Roh. Gue bilang pergi!" "Raga selalu membutuhkan Roh! Gue bakal tetap disini." "Lo harus pergi!" "Okay, Ga. Gue pergi." Dunia Raga tidak berwarna, bahkan gelap sekalipun. Dunianya runtuh. "Maaf." *** Collaboration with @nayla_hf22 @itscallysta_ and @hembusan_rindu, we write this story with Roleplay system. So, you can see the number on title and follow then you must be on the right way to enjoy our story. Cover by : @shafa_shaf [1] A R A G A ©2018 Collaboration Squad
All Rights Reserved
#168
roh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pieces of Light
  • THE MOST WANTED
  • CLOSER
  • Abu Abu [ completed ]
  • HTS (Hubungan Tentang Status)
  • AURORA (END)
  • Kelas A [End]
  • Rara & Reyhan (End)
  • It's Me

Di bawah bayang-bayang pohon besar di taman sekolah, waktu seolah melambat. Hembusan angin pagi yang lembut membawa aroma dedaunan basah, sementara suara langkah-langkah kecil para siswa terdengar samar di kejauhan. Di sana, Aveline duduk di ayunan, dikelilingi keheningan yang ia ciptakan sendiri. Rafael melihatnya dari kejauhan. Gadis itu berbeda. Perkenalan singkatnya di kelas hari sebelumnya-begitu sederhana, begitu tanpa upaya mencuri perhatian-justru membuatnya penasaran. Hari ini, dengan bunga di tangannya dan keberanian yang ia kumpulkan semalaman, Rafael melangkah mendekat. "Kamu mau nggak jadi teman baik aku?" tanyanya, suaranya bergetar sedikit. Aveline menatapnya, lalu menaikkan alis dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Rafael menggaruk kepalanya, lalu buru-buru menambahkan, "Mmm... atau kalau nggak, karena kamu pintar, boleh nggak ajarin aku pelajaran yang aku nggak bisa?" Setelah jeda singkat, Aveline akhirnya mengangguk kecil. Dalam momen itu, tanpa banyak kata, hubungan mereka pun dimulai-perlahan tapi pasti, seperti cahaya pagi yang menembus dedaunan, membawa kehangatan pada hari yang baru. "Pieces of Light" adalah kisah tentang pertemuan sederhana yang mengubah segalanya, tentang dua jiwa yang saling menemukan arti keberanian, cinta, dan harapan di tengah perjalanan hidup. ------------------ If u don't like it just skip it thanks!!! upload setiap Senin dan Jumat ✨

More details
WpActionLinkContent Guidelines