Rasaku Tentangmu

Rasaku Tentangmu

  • WpView
    Reads 695
  • WpVote
    Votes 36
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 21, 2018
Hanya sekadar rasa untuk dia yang dipuja. Hanya tentang rasaku untuknya tanpa diketahui sipembuat rasa bergejolak. Dia tidak tahu dan tidak pernah tahu. Biarkan aku abadikan dalam kata yang penuh rasa. Mungkin hanya aku yang merasakan sedangkan kalian yang membaca tak merasakan akan rasa yang membuncah untuknya. Apa-apa yang aku tulis pada Judul cerita ini, itu adalah aku itu adalah rasaku tanpa membual. Karena sungguh aku utarakan satu fakta tentangku untukmu yang singgah di Judul ceritaku kali ini "Aku adalah pembicara apa adanya" Untukmu pembuat rasa bergejolak, sehat selalu dan terima kasih sempat buat hati berbuncah teringat engkau yang biasa-biasa saja tapi hati terpana. Sarangahae
All Rights Reserved
#877
indonesiamembaca
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • segudang Prestasi, Namun Minim 𝐊𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐒𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠 || CH Fanfic [END]
  • Love??Bullshit
  • Sepasang Luka Merajut Asa [END]
  • T E R B U N U H   S E P I  || Z W E I T S O N •• U N 1 TY || E N D
  • ﹪ ׅ 𝅦𝅦 Ur smile :D ☆ countryhumans Indonesia ━ׄ┈⋄⃞🇮🇩̷𝆭
  • TIAP-TIAP PUNYA MASING MASING
  • JANGAN PANGGIL AKU LARAS

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines