Hati yang tak kunjung sembuh

Hati yang tak kunjung sembuh

  • WpView
    Reads 61
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Jul 16, 2018
Aku adalah Mello yang memiliki cita-cita menjadi seorang pelukis, Aku juga memiliki pasangan yang amat sangat mencintaiku. Hingga suatu saat, mama dan papa ku dikabarkan masuk rumah sakit karena kecelakaan. Kecelakaan itu menyebabkan harta benda orang tuaku terkuras habis hingga tak ada satupun yang tersisa. Setelah beberapa haripun nyawa mama dan papa tak dapat ditolong. Aku tak tau harus bagaimana hidup dijalanan tak semudah perkataan orang. Setelah pacarku mendengarkan berita bahwa hartaku telah terkuras habis, ia pun pergi meninggalkanku. Ia berkata hanya sesaat tak taunya selamanya. Cita-citaku yang menjadi pelukispun pupus, hingga akhirnya aku sadar bahwa hatiku kemarin sedang dilanda hujan, dan hari ini ditambah petir. Aku diharuskan berusaha keras walau hidup sebatangkara.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • welcome to the month march
  • Yang Terlupakan
  • Embun Pagi
  • GRHYA : Arti Keluarga
  • Boyfriend
  • Heart & Vein END
  • Two Person That I Love
  • Setelah Hujan ( End ✔)
  • Hub Fii Notification

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

More details
WpActionLinkContent Guidelines