RUMAH TANPA ATAP

RUMAH TANPA ATAP

  • WpView
    Reads 122
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 20, 2019
Apa hidup harus sesakit ini? Kenapa hidup yang ada di sekelilingku selalu menyakiti dan disakiti? Tapi.. menyakiti yang kumaksud kali ini bukan menyakiti orang lain. Tapi diri sendiri. Kamu tahu bentuknya bagaimana? Kamu tahu bagaimana awal mulanya sakit itu ada? ... "Kenapa kau hadir di hidupku lagi? Bisakah kau menghilang dari pandanganku? Kumohon.. " pinta Navya memohon.
All Rights Reserved
#901
complicated
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • US AND LAKE COMO ITALY [ON GOING]
  • Alisa's Story
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • 180 Days
  • Shattered Soul
  •  Jauh dari Hangat
  • You Are Not Alone (Slow Update)
  • Garvitara [END]
  • BROKEN HOME

[FOLLOW SEBELUM BACA] CERITA ORIGINAL HANYA ADA DI AKUN : moonskyther, selain itu berarti PLAGIAT. BLURB : Kehidupan selalu memiliki misterinya sendiri, dengan rasa sakit atau dengan rasa bahagia ia menciptakan segelintir karakter manusia. Beberapa manusia mungkin dapat berdamai dengan hidupnya, dengan masa lalunya yang kelam, melanjutkan aktivitas hidup seperti biasa. Namun, itu tidak berlaku untuk manusia yang hidupnya telah tragis bahkan sejak ia masih kecil. Rasanya, hidup bagai badai yang selalu mencekamnya. Ia masih hidup, namun jiwanya telah lama mati. Ia masih berenang, namun jauh di dalam dasar sana ia telah lama tenggelam. Manusia tidak pernah sembuh perihal luka dan trauma. Mereka selamat dari kecelakaan, namun telah sepenuhnya cacat seumur hidup. Tapi sekali lagi, dunia terlalu jahat untuk manusia menjadi lemah. Dunia terlalu jahat untuk manusia yang tidak sedikitpun mempunyai alasan untuk tertawa ditengah telah berdarah-darah hidupnya. Alasan-alasan kecil untuk tetap bertahan hidup, bagai sebuah pondasi untuk pertahanan diri. Semua orang memiliki alasan bertahan hidup yang berbeda, untuk sekedar selalu menikmati segelas es kopi di pagi hari, atau untuk sekedar dapat berkunjung ke tempat yang ingin dinikmati. Hal itu yang selalu terlintas dalam benak seorang Aryan, dengan mimpinya yang selalu ingin melihat indahnya hamparan air danau Como. "Setidaknya sekali dalam hidup, aku ingin membawa diriku, aku ingin memuja mataku untuk melihat keindahan danau Como, itu inginku setidaknya sebelum aku melebur menjadi tanah." - Aryan Bagaskara Adhiwijaya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines