Sebuah Rasa

Sebuah Rasa

  • WpView
    Reads 5,124
  • WpVote
    Votes 82
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadComplete Mon, Mar 2, 2020
Di kantor ini aku memulai pekerjaan pertamaku dan hubungan terlarangku. Aku terlibat percintaan dengan teman sekantorku. Memang sih kalau sepintas diliat itu wajar wajar aja. Tapi menjadi ga wajar kalau yang aku cintai seorang pria yang telah beristri. Yupss aku mencintai suami orang. Yang tadinya aku ga ingin mengenal dia lebih dalam, tapi perasaan ini malah semakin dalam mencintainya. Semakin aku ingin menjauh dari dia rasa kehilangan itu semakin menyiksaku. Aku terlanjur terjebak di hubungan ini. Semakin aku berusaha untuk melupakan dia semakin sakit perasaanku dan aku semakin ingin untuk terus bersama dia. Aku sungguh mencintainya. Mencintai dia yang sudah menjadi milik orang lain.
All Rights Reserved
#185
terlambat
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • Everything Happens for a Reason
  • A WEDDING STORY
  • Beautiful Sunset
  • Me and My World
  • Dear Mia
  • FATED
  • Langkah Seiring (END+EXTRA PART)
  • Nothing, But You...
  • Book Of Romance

Pernikahan Jamila Istari (30) dan Nadiem Arif Prakoso (38) sudah tiga tahun kandas, huru-hara dipicu oleh ketidak puasan Ami yang merasa kurang segala-galanya. Di zaman ini, di ekonomi yang begini, dia harus bertahan dengan Nadiem yang luntang-lantung setelah bisnisnya gulung tikar? Yang benar saja! Ami itu high maintenance! Belum lagi dia juga ikut menanggung hutang ibunya. Plus, ibu dan kakak Nadiem yang pelit pula. Di bayangan Ami, terbebasnya ia dari Nadiem bisa membuat kehidupannya lebih baik. Kenapa tidak? Toh, Ami punya gelar, kompeten, supel, cantik, ada pula harta gono-gini yang harus Nadiem berikan untuknya. Sudah sangat amat cukup, Ami bisa bekerja lagi dan menikmati uangnya seorang diri. Tapi nyatanya, tidak. Tiada beda, justru lebih berat, lebih parah, lebih menjengkelkan. Ami pusing, mual, mumet, apalagi setiap kali putrinya, Kanaya yang masih berusia tujuh tahun itu merengek-rengek ingin bertemu si Papi. "Mami ayooooooo! Kita cari Papi, aku mau Papi, kangen Papi, mau ketemu Papiiiiii!" "Papi kamu udah punya anak baru." "Haaaa! Mamiiiiii!" Rasanya Ami ingin menjerit dan bergulung-gulung saja!

More details
WpActionLinkContent Guidelines