Nona Dalam Belenggu

Nona Dalam Belenggu

  • WpView
    Reads 4,190
  • WpVote
    Votes 106
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 23, 2019
Hanya sekumpulan pemikiran biasa yang membahas tentang perempuan yang selama ini hidup dalam budaya yang tidak adil ditengah kehidupan. . Apakah perempuan selalu di identikkan dengan kata "Lemah"? Apakah pelecehan harus di diamkan? Sekiranya kali ini pernyataan "diam adalah emas" tak patut dicamkan terhadap kasus-kasus yang selama ini di anggap remeh. . Sekiranya perempuan saat ini sudah cerdik dan hanya segelintir kecil saja yang rela dijadikan objek pemuas nafsu saja. . Mohon maaf jika ada kesalahan atau kesesatan berpikir. Kita semua dalam proses menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibagi kepada orang lain.
All Rights Reserved
#33
pandangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • Dia, Manusia Bernama "Lelaki"
  • THE WAY OF LOVE [ REVISI ]
  • Kesempatan?
  • Ainslleya - Ainsleya : [ Anne Of Green Gables ]
  • REGATHAN [END]
  • ALA
  • KEPRIBADIAN ZEANA (Revisi)
  • [ New ] MIKACINTA [ END ]
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

More details
WpActionLinkContent Guidelines